Mi6 : Kaum Muda dan Perempuan Perlu Diberi Peran Politik dalam Pemilukada

Nazam   |   Politik  |   Selasa, 10 Oktober 2017 - 10:07:25 WIB   |  dibaca: 14 kali
Mi6 : Kaum Muda dan Perempuan Perlu Diberi Peran Politik dalam Pemilukada

Direktur Mi6 : Bambang Mei Finarwanto, SH dan Sekretaris, Lalu Athari Fadullah, SE

KABARBERITA.CO.ID - Mi6 memandang bahwa Pemilu Kada 2018 harus dimaknai sebagai upaya memberikan ruang partisipasi  politik kepada kaum muda dan perempuan agar berperan secara aktif dalam konstestasi politik saat ini. 

Keterlibatan kaum muda dan Perempuan ini merupakan energi perubahan dalam menentukan pilihan rekruitmen kepemimpinan di daerah agar lebih baik dimata massa rakyat.

Demikian dikatakan Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH dan Sekretaris Mi6 , Lalu Athari Fadullah, SE dalam siaran pers yang dikirim ke media, minggu , 8/10/2017.

Mi6 juga mengimbau agar kalangan tua, pelingsir atau tokoh  masyarakat NTB, tokoh Partai Politik NTB memberikan kepercayaan, ruang dan jalan bagi kaum muda NTB untuk mengakselerasi dan mendinamisasi proses politik yang sedang berlangsung menuju Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.

"Berikan tanggungjawab dan kepercayaan kepada orang muda dalam mendesign proses politik yang sedang berlangsung ini," ujar direktur Mi6 sembari mengatakan orang muda harus dipaksa untuk berbuat lebih baik dalam menentukan pemimpin daerahnya. 

Momentum pilkada ini, lanjut Didu , panggilan akrab direktur Mi6, merupakan test case untuk membentuk karakter kepemimpinan kaum muda saat diberi kepercayaan mengelola dinamika politik di daerah ini.

"Saat ini telah muncul figur-figur muda potensial di NTB yang memiliki masa depan politik yang baik, tersebar diberbagai profesi dan partai," lanjut sekretaris Mi6, Lalu Athari Fadlulah sambil menambahkan 
Ini salah satu potensi SDM yang dimiliki NTB yang bisa dijadikan asset dalam memajukan pembangunan daerah

Dalam konstestasi Pilkada serentak NTB, lanjut Athar, telah nampak perpaduan komposisi pasangan tua muda yang telah di publikasi.

"Ini tradisi politik yang baik supaya tidak ada dikotomi antara tua dan muda," ungkap nya. 

Dilain pihak , Didu melihat bahwa saat ini adalah masa transisi kepemimpinan antara golongan tua dan orang muda. Keterlibatan orang orang tua dalam proses politik di NTB hendaknya hanya katalisator dan  sebagai dinamisator politik yang baik.

 "Tut wuri handayani saja, kalau ada anak muda yg tidak taat fatsun, baru disemprit dan diarahkan ke jalur yang benar," kata Didu .

Didu menyakini dengan makin masivnya keterlibatan kaum muda dari beragam strata sosial dan afiliasi politik yang berbeda akan memperkuat identitas ke NTB an yang plural, setara dan anti diskriminasi.

"Bagaimanapun juga kaum muda memiliki energi,  pandangan dan pikiran yang lebih maju dan tidak ingin melihat status quo yang membosankan itu," lanjutnya. 

Siapapun nanti pemenangnya dalam Pilkada 2018 , sambung Athar akan terlihat dengan jelas figur figur pemimpin NTB yang disenangi dan dipilih oleh kaum muda.

 "Hal ini bisa jadi pemilih muda menginginkan suasana yang baru dalam memimpin didaerah," pungkasnya. [ KaBer ]

Profil Nazam

Nazam


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook