Lelet Tanggapi Laporan, Pengurus Gaspermindo Kecam Komisi IV DPRD NTB

Kabar Berita   |   Hukum  |   Senin, 23 Oktober 2017 - 22:49:49 WIB   |  dibaca: 219 kali
Lelet Tanggapi Laporan, Pengurus Gaspermindo Kecam Komisi IV DPRD NTB

LAPOR: Pengurus Gaspermindo NTB, Ada Suci Makbulloh saat menyampaikan laporan terkait dugaan praktik penyimpangan kontrak kerja perusahaan AMP dan SC di wilayah Lombok Timur.

KABARBERITA.CO.ID - Ingat laporan Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) NTB soal kasus perusahaan stone crusher (SC) dan Asphalt Mixing Plant (AMP)? Gaspermindo dalam laporannya membeberkan fakta terkait dugaan pelanggaran kontrak kerja terhadap buruh. Gaspermindo NTB, Ada Suci Makbullah mengatakan, laporan sudah dimasukan ke Kantor komisi IV DPRD NTB. Laporan itu berisi serangkaian fakta tentang kelalaian serta kesengajaan perusahaan SC dan AMP melakukan praktik "kerja rodi".

"Kami sudah sampaikan ke media bahwa temuan kami perusahaan-perusahaan itu mempekerjakan karyawan yang banyak dan tidak diikat kontrak kerja," ujarnya, Kamis (19/10/2017) yang lalu.

Suci mengecam keras para wakil rakyat di Jalan Udayana itu lantaran sampai sejauh ini tidak ada progres tindakan yang diambil. Padahal jika diseriusi, laporan itu seharusnya sudah ditindaklanjuti. Alih-alih mengambil langkah cepat, anggota Komisi IV disebutnya lelet alias lamban.Laporan yang disampaikan pihakya disebutnya menyangkut hajat hidup orang banyak.

Ditegaskan, di dalam perusahaan SC dan AMP itu ada indikasi semua buruh yang dipekerjakan tidak diikat kontrak. Mereka hanya dijadikan sebagai tenaga harian lepas (THL). Padahal amanat Undang-Undang 13/2003 membebankan semua perusahaan yang mempekerjakan karyawan di atas 20 orang harus diikat dengan kontrak, bukan THL.

Imbas tidak adanya kontrak disebutnya berdampak terhadap kesejahteraan para buruh. Rata-rata mereka tidak diberikan asuransi keselamatan kerja dan upah yang jauh dari standar kelayakan.

Di lain sisi, ucapnya, para pekerja juga tidak dilengkapi alat-alat keselamatan kerja. Kondisi ini berimbas terhadap kelangsungan nyawa mereka. Terlebih perusahaan SC dan AMP sangat rentan menyebabkan penyakit pernapasan dari aktivitas yang dilakukan.

"Jika dilihat aktivitas SC dan AMP ini sangat membahayakan para pekerja. Ini karena para pekerja sehari-hari harus berjibaku dengan debu," bebernya.

Suci lantas mengingatkan anggota Komisi IV tidak main-main dalam kasus ini. Mengingat dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan SC dan AMP sudah mengarah ke ranah pidana murni. 

Kata dia, bisa saja karena sikap keberpihakan yang tak jelas dari dewan akan membuat dirinya membawa kasus ini ke penegak hukum. Namun sejauh ini pihaknya ingin melihat iktikad baik dari para wakil rakyat.

"Kalau pun akan saya laporkan ke aparat hukum, saya tidak laporkan ke Polda, apalagi Polres. Saya akan langsung ke Mabes Polri," gertaknya.

Karena itu, ia meminta agar Komisi V segera mengambil tindakan. Suci menyarankan agar wakil rakyat ini menggelar inspeksi ke lapangan.

Menurutnya, langkah ini penting agar dewan mengetahui kondisi dan fakta lapangan. Dengan demikian, bisa mengambil tindakan apa yang akan dilakukan. Apakah akan memanggil dinas-dinas terkait atau juga memanggil para pemilik AMP dan SC untuk memecahkan persoalan yang terjadi.

"Saya curiga kalau dewan ini belum bertindak karena belum mengetahui situasi di lapangan," tegasnya.

Terpisah, anggota Komisi Viii DPRD NTB, Bajuri Bulkiah mengatakan, dirinya sudah mendesak jajaran pimpinan komisi untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut. Secara pribadi, ia mengaku tak ingin laporan yang masuk itu mengendap.
Kata dia, semua laporan yang masuk ke pihaknya akan tetap diproses. Hanya saja, dalam beberapa waktu terakhiir tugas kedewanan disebutnya cukup padat.

"Apalagi saat ini juga sedang ada reses. Kita jadi agak susah bagi waktu," tegasnya.

Pasca tugas kedewanan sedikit longgar, bebernya, dipastikan dirinya akan kembali mengingatkan pimpinan komisi Viii segera terjun inspeksi terkait kondisi lapangan. ( Kbr/07)



 

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook