Urgensi Pergantian Nama Bandara

Kabar Berita   |   Opini  |   Rabu, 22 November 2017 - 00:11:16 WIB   |  dibaca: 178 kali
Urgensi Pergantian Nama Bandara

Anggota Komisi VI DRD NTB, Dr. H. Mugni Sn. M.Pd.,M.Kom ( Foto : KaBer )            

KABARBERITA.CO.ID - Presiden ke - 6 (enam) Republik Indonesia , Susilo Bambang Yudoyono ( SBY ) telah menorehkan sejarah untuk Nusa Tenggara Barat dengan meresmikan bandar udara internasional di NTB pada bulan Oktober 2011. Label internasional diberikan kepada bandar udara baru ini sebagai referensi bahwa bandara ini dapat didarati oleh pesawat-pesawat yang layak terbang lintas negara. 
Saat diresmikan sebenarnya bandara ini belum mempunyai nama bila dikonparatifkan dengan bandara-bandara yang telah ada di negeri ini. Semua bandara yang ada “tidak ada” namanya, hanya nama tempat/pulau tempatnya di bangun.

Tetapi untuk kepentingan “pertiketan” diberikanlah nama “Bandar Udara Internasional Lombok” yang lebih populer di masyarakat dengan istilah “BIL”. Setelah beberapa tahun nama  yang telah populer BIL tiba-tiba diganti dengan LIA (Lombok Internasional Airport). BIL dan LIA sebenarnya selai lima likur karena hanya ganti bahasa saja. Yang BIL bahasa Sumpah Pemuda dan yang LIA bahasa yang mulai kita pelajari secara fomal kala sekolah di tingkat SLTP tetapi sampai perguruan tinggi pun kita masih belum bisa menggunakannya untuk berkomunikasi. 

Pergantian nama bandara internasional di NTB ini dari BIL ke LIA berjalan lancar tanpa ada protes. Protes yang terpublikasi di koran yang sempat saya baca hanya datang dari seseorang yang menjadi duta bahasa Indonesia. Yang bersangkutan menyayangkan mengapa nama BIL diganti dengan LIA. Seharusnya sebagai orang yang mencintai bahasa nasional tetap saja menggunakan bahasa Sumpah Pemuda. Selebihnya, masyarakat NTB adem ayem. 

Seharusnya masyarakat di Pulau Sumbawa keberatan karena  namanya kok Lombok padahal itu bandara milik NTB. Bisa jadi mereka merasa nama itu tidak terlalu penting karena entah kapan juga naik pesawat. Atau karena mereka telah punya bandara lokal yang namanya mengabadikan nama tokoh yang ada di daerahnya. " Bandara Sultan Salahudin Bima dan  Bandara Sultan Kaharudin Sumbawa". Bandara di Lombok biar aja gak punya nama....???

Proses lahirnya bandar udara internasional NTB yang berlokasi di Lombok ini sebagai hasil kerja bareng dari berbagai kompnen. Banyak gubenur, Bupati/Wali Kota yang terlibat sehingga dapat berwujud seperti sekarang ini. Bukankah bandara internasional ini perencanaannya sudah dimulai pada era gogo rancah?.

Ada masyarakat yang punya tanah. Tanah masyarakat ini tentu tidak gratis. Bahkan mungkin juga dibeli sampai 2 bahkan hingga 3 kali oleh pemerintah karena adanya istilah tali asih. Jadi yang punya tanah sudah tidak ada ikatanya lagi dengan bandara. Bandara telah menjadi milik publik. Masyarakat yang ada di sekitar bandara telah mendapatkan manfaat dari keberadaan bandara ini. Minimal ada di antara mereka yang dapat berjualan bakulan di areal bandara. Jual kopi, jual mie, jual rokok, dan lain-lain. 

Pada bulan Nopember ini, isu pergantian nama BIL / LIA dengan menyematkan nama tokoh NTB yang lahir di Pulau Lombok berguler deras. Hal ini terjadi seiring dengan ditepatkannya putra terbaik NTB menjadi Pahlanan Nasional dan bahkan sekaligus mejadi palahawan nasional pertama dari Nusa Tenggara Barat. 

Putra terbaik ini adalah Almaghfurllah TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pendiri organisasi Nahdlatul Wathan ( NW ) yang dikenal juga dengan nama Maulana Syaikh; Tuan Guru Pancor, Abu Rauhun wa Raihanun; Abul Madaris wal Masajid, dan lain-lain. 

Dengan diberikan gelar pahlawan Nasional maka Maulana Syaikh bukan lagi milik Nahdlatul Wathan, bukan lagi milik Lombok, bukan lagi milik NTB tetapi telah menjadi milik nusantara. Jadi keberadaan beliau jangan lagi dipandang secara farsial.
Ide dan gagasan untuk mengabadikan nama Maulana Syaikh untuk menjadi nama Bandar Udara Internasional Lombok  telah lama beredar di media massa dan diskusi-diskusi di gruf WA. Dua opini di Lombok Post telah mengangakat isu ini sebagai isi dalam tulisan, yakni opini tanggal 23 September 2014 dan tanggal 26 dan 27 September 2014. Opini tanggal 23 September 2014 ini menegaskan bahwa Bandar Udara Internasional yang ada di NTB masih belum mempunyai nama resmi. Nama Bandar Udara Internasional Lombok (BIL)  masih bersifat sementara. 

Lantas penulis opini ini mengusulkan naman bandara tersebut dengan mengabadikan nama tokoh besar kelahiran Lombok, yakni TGKH. Muhammad Zainuddin Andul Madjid sehingga menjadi  Bandar Udara Iternasional Syaikh Zainuddin Abdul Madjid. 

Sementara opini tanggal 26-27 September 2014 secara sempurna mendukung ide dan gagasan yang dituangkan oleh penulis opini tanggal 23 September 2014. Penulis memberikan apresiasi terhadap opini tersebut dengan mengatakan bahwa usulan yang sangat cerdas yang harus direspon dan diperjuangkan oleh Pemda dan masyarakat NTB. Siapakah masyarakat NTB yang tidak mengakui bahwa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai tokoh dan ulama besar? 

Bahkan beliau sangat dikenal di dunia Islam terutama di Timur Tengah. Nahdlatul Wathan ( NW ) organisasi kemasyarakatan Islam yang didirikan telah merambat ke 20 propinsi di nusantara.

Untuk di Pulau Lombok, hampir di semua desa ada sekolah/madrasah yang berlabelkan Nahdlatul Wathan. Bila dibandingkan dengan karya tokoh lain di NTB maka para pendukung tokoh-tokoh lain harus mengikhlaskan supaya simbol kebanggaan masyarakat NTB dalam bentuk Bandar Udara Internasional diberi nama Bandar Udara Internasional "Syaikh Zainuddin Abdul Madjid".

Lebih jauh penulis opini tanggal 26-27 September 2014 memberikan ilustrasi bahwa  pemberian nama bandar udara internasional yang ada di nusantara ini dengan mengabadikan nama tokoh-tokoh yang berjasa yang berasal dari dearah bandara tersebut berada merupakan suatu kelaziman.

Sebut saja bandar udara yang menjadi simbul bangsa, Sukarno Hatta di Jakarta. Ahmad Yani di Semarang. Adi Sumarmo di Solo. Adi Sucipto di Yagyakrta. Juanda di Surabaya. Abdurahman Saleh di Malang. Husain Sastra Negara di Bandung. Cut Nyak Dien di Aceh. Depati Amir di Babel.  Ngurah Rai di Bali. Sultan Salahuddin di Bima. Sultan Hasanuddin di Makassar. Patimura di Ambon. Hang Nadin di Batam. Sultan Badaruddin di Sumsel. Sultan Thoha di Jambi. Babullah di Malut. Samsuddin Nur di Kalsel. Jalaluddin di Grontalo. Sam Ratulangi di Sulut. Bahkan bandar udara internasional yang diresmikan oleh Presiden SBY pada bulan September 2014 di Kalimantan Timur dibernama dengan Sultan Sulaiman, dan lain-lain.

Lebih lanjut penulis opini ini mengajukan pertanyaan, “Mengapa  badar udara internasional di Lombok NTB belum juga diberikan nama dengan nama Badar Udara Internasional Syaikh Zainuddin? Mengapa Pemda NTB membisu? Pertanyaan dari penulis opini Lombok Post tanggal 26-27 September 2014 sudah waktunya untuk dijawab dengan tindakan nyata oleh Pemda Nusa Tenggara  Barat. 

Gubernur NTB harus memposisikan dirinya sebagai gubernur yang mewakili pemerintah berserta seluruih rakyat. Merspon berbagai usulan agar nama bandara internasional di Lombok diberikan nama dengan nama pahlawan nasional yang berasal dari NTB.

Bila kita aktif mengikuti perkembangan di media massa maka usualan itu telah datang dari berbagi pihak. Dari akademis, tuan guru, tokoh mamsyarakat, tokoh adat, anggota legislatif, calon-calon yang ingin bertarung di Pilkada, generasi  muda, dan lain-lain. Ada satu dua yang kontra. Itulah alam demokrasi. Pemerintah daerah tentu dapat menganalisa. Untuk usuluan nama dengan yang lengkap menjadi Badar Udara Internasiuonal TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid; Badar Udara Internasional Syaikh Zainuddin; Badar Udara Internasional Hamzanwadi atau  nama beliau yang lain. Itu dapat diskusikan dengan menghadirkan multi tokoh. Yang pasti pemberian nama bandara internasional di NTB dengan nama pahlawan nasional asal NTB seperti bandara-bandra yang ada di Nusantara menjadi sangat urgen. 

Semoga ini menjadi salah satu kado untuk masyarakat NTB di akhir jabatan Pak Gubernur.

Wallahuaklambissawab.

Oleh :  Mugni Sn. (M.Pd.,M.Kom.,Dr.)
            (Anggota Komisi VI DRD NTB)

 

Profil Kabar Berita

Kabar Berita

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

Bang one
23 November 2017 - 09:01:55 WIB

Sangat setuju.apa lagi di sertai dg tiket murah setiap saat

  • 1

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook