Tangkal Paham Radikalisme,  PC PMII Lotim Gelar Simposium Mubaligh

Kabar Berita   |   Pendidikan  |   Rabu, 22 November 2017 - 23:11:39 WIB   |  dibaca: 54 kali
Tangkal Paham Radikalisme,  PC PMII Lotim Gelar Simposium Mubaligh

Para peserta saat mengikuti acara Simposium Mubaligh yang di Gelar PC PMII Lotim disalah satu rumah makan di Lombok Timur, Rabu 22 November 2017. (Foto : KaBer / ist)

KABARBERITA.CO.ID -- Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PC PMII) Kabupaten Lombok Timur, menggelar kegiatan simposium disalah satu Rumah Makan di Lotim,  Rabu, ( 22/11/2017 ) dengan tema, “Dakwah Transformatif dan Moderat, Mengeliminir Radikalisme Dengan Mendorong Peran Mubaligh dan Mubalighah Dalam Menyebarkan Ajaran Islam yang Rahmatan Lil’alamin.” 

Acara ini digelar dengan tujuan untuk menangkal radikalisme dan memperbaiki citra umat muslim di Tanah Air, khususnya  di Kabupaten Lombok Timur. Sebagai umat islam, tentu saja kita akan merasa sangat tidak setuju jika Islam dikatakan sebagai agama yang radikal. Terlebih lagi, pada pandangan bahwa Islam sebagai sarang teroris.

Padahal sejatinya, islam adalah agama yang Rahmatan Lil’alamin. Islam adalah agama yang tidak hanya memberikan rahmat bagi penganutnya. Tapi juga, menjadi payung pelindung bagi agama lain.

Pancasila bukanlah ideolegi yang menghalangi syiar islam. Justru Pancasila adalah ideologi yang membuka peluang sebesar-besarnya agar nilai-nilai islam tumbuh subur di Tanah Air.

“Pancasila adalah lahan subur untuk menegakkan nilai Islam di Republik ini." Demikian dikatan TGH Mahsun Faisal dalam pemaparan materinya. 

Bukan hanya itu jelas TGH Mahsun, Pancasila juga merupakan hadiah terindah dari para pahlawan yang diberikan kepada umat Islam di Indonesia. Seperti halnya sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa yang ditetapkan melalui perdebatan panjang antara tokoh islam dan nasionalis, jelasnya.

Pemateri  lainya, TGH Hudri Abdullah juga menegaskan bahwa Pancasila sendiri merupakan bagian dari piagam Jakarta yang telah melalui perjuangan panjang para ulama.

“Coba perhatikan kalimat pembuka pada Piagam Jakarta. Dengan Berkat Rahmat Allah yang maha kuasa,” jelasnya penuh penekanan.

Melihat susunan kalimat tersebut, tentu dapat kita pastikan bahwa hal itu merupakan sebuah penghargaan yang ditujukan bagi umat Muslim. Dan, kalimat pada sila pertama sangat identik dengan kalimat syahadat dalam agama Islam. Tegasnya. 

Sementara pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta yang hadir , Huryadi, perwakilan MMI NTB mempertanyakan soal barometer seseorang dikatakan radikal yang di sematkan pada kaum muslimin.

Mendengar  pertanyaan itu,  TGH. Mahsun Faisal menjelaskan, tolak ukur radikal adalah ketika seseorang sudah mulai menghalalkan kekerasan untuk memberikan pemahaman kepada golongan lain. Sehingga munculnya sikap-sikap intoleran bahkan memunculkan tindakan terorisme yang tujuannya menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.

Sementara itu, Ahmad Fatoni, selaku Pimpinan Pondok Pesantren, sangat menyayangkan stigma radikal yang sering di sematkan kepada santri. Bahkan tak jarang, Pondok Pesantren dituding sebagai penyuplai utama gembong teroris.

Ia sendiri merasa heran dengan keinginan sekelompok orang untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Padahal di NKRI, dengan idealogi Pancasila, Umat Islam Tanah Air bisa beribadah dengan tenang. Tidak seperti di negara-negara Timur Tengah yang saat ini ibadahnya sangat terganggu akibat konflik di negara tersebut.

“Indonesia adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita sebagai umatnya. Di negara ini kita bisa sholat, ngaji, bersholawat, berdzikir, dengan tenang,” Paparnya.

Ia juga berharap agar tak ada lagi kelompok yang memaksakan pemahamannya kepada golongan lain. Dan hendaknya, umat muslim tetap menunjukkan sifat Islam yang toleran, santun, serta mengikuti cara dakwah Rasullulah yang penuh kelembutan.

Hadir pada acara itu, sebagai pembicara TGH Mahsun Faisal perwakilan MUI, TGH Hudri Abdullah selaku Mubaligh, Lalu Miftahul Surur perwakilan Kementerian Agama, dan Ahmad Fatoni, pimpinan Pondok Pesantren. (kbr/09 )

 

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook