Asset Negara Mau Dijual, HMI Demo Jokowi Saat Menghadiri Munas NU di NTB

Kabar Berita   |   Nasional  |   Kamis, 23 November 2017 - 14:09:54 WIB   |  dibaca: 73 kali
Asset Negara Mau Dijual, HMI Demo Jokowi Saat Menghadiri Munas NU di NTB

Peserta aksi membentangkan atribut bertuliskan ucapan selamat Munas dan Konbes NU, Kamis, 23 November 2017 di NTB dan kritikan ke Jokowi.[ Foto : KaBer/ Ist ]

KABARBERITA.CO.ID -- Kesempatan dalam kesempitan itulah yang dimanfaatkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mataram, dengan harapan organisasi tertua itu bisa langsung menyampaikan aspirasinya dihadapan orang nomor  satu dinegara ini meski hanya sekedar lewat tulisan dari atribut yang mereka bawa.

Presiden Joko Widodo ke NTB untuk menghadiri dan membuka langsung acara Munas dan Konbes NU di Islamic Center Mataram,  Kamis, (23/11/2017). Kesempatan itu tidak mau disia-siakan kader HMI Cabang Mataram, mereka menyambut kedatangan Jokowi dengan menggelar aksi damai yang tujuannya menyampaikan sejumlah tuntutan terkait rencana penjualan dan pengelolaan aset negara oleh asing.

Para peserta berkumpul dan memulai aksinya di halaman gedung Gelanggang Pemuda NTB, dengan damai bahkan tanpa orasi, melainkan mereka hanya melakukan long march sambil melantunkan syalawat badar dengan membawa sejumlah atribut kritikan ke Jokowi.

Namun sksi yang mereka gelar dihentikan pihak aparat keamanan TNI dan Polri, pihak keamanan tidak mengijinkan masa aksi melanjutkan agenda aksi itu,  bahkan pihak aparat melakukan tindakan mengambil paksa semua atribut aksi yang dibawa HMI, namun masa aksi tetap bertahan dan tertib.

Koordinator Lapangan Fahru Rozy menuturkan bahwa pihak keamanan belum mengijinkan HMI untuk melakukan long march sesuai agenda sebelumnya.

“Atribut aksi telah diambil paksa oleh aparat, sementara long march yang awalnya harus kami laksanakan
tidak bisa dilakukan,” ujarnya.

Sempat terjadi dialog antara Pengurus HMI Cabang Mataram dengan pihak aparat keamanan, kurang lebih sekiar dua jam baru menghasilkan kesepakatan.

Ditempat yang sama ketua umum HMI Cabang Mataram Lalu Kusuma Dedy Wijaya menjelaskan bahwa aksi yang mereka lakukan adalah murni dalam rangka menyampaikan aspirasi mengenai ketidak setujuan HMI Cabang Mataram pada rencana Pemerintahan Joko Widodo memberikan hak pengelolaan beberapa alat vital negara kepada swasta dan asing .

“Ini murni aspirasi, kami mengingatkan pemerintah agar tidak sewenang-wenang memberikan hak pengelolaan alat vital negara kepada asing. Jika dilakukan kami terus melawan,” Tegas Dedy

“Coba ingat sejarah bangsa ini dijajah. Awalnya korporasi bisnis (VOC) masuk, kemudian seiring berjalannya waktu berkuasa dan kemudian akhirnya menjajah kita,” Tuturnya

Dedy mengklarifikasi atas opini yang berkembang bahwa HMI mengganggu proses acara Munas dan Konbes NU.

“Saya tegaskan, HMI mendukung penuh bagi kesuksesan pelaksanaan Munas dan Konbes NU di Mataram, namun ini murni aspirasi, yang kebetulan momentumnya pak Jokowi hadir ke NTB” Jelas Alumni Fakultas Hukum Unram ini

Aksipun hanya digelar di halaman gedung Gelanggang Pemuda karena tidak diijinkan aparat untuk melanjutkan. Aksi dilanjutkan dengan rangkaian membacakan tuntutan dan syalawat badar oleh seluruh masa aksi.

HMI meminta Presiden Joko Widodo untuk kembalikan kuasa kelola BUMN yang telah di alihkan ke asing untuk dikelola sepenuhnya oleh Negara, hentikan hutang luar negeri, stop rencana pengalihan kuasa pengelolaan aset-aset negara ke asing khususnya yang ada di NTB, cabut UU No 2 Tahun 2017 tentang Ormas yang mereduksi demokrasi bangsa.

Sebelumnya pemerintah berencana mengalihkan pengelolaan beberapa aset vital negara kepada asing seperti bandara, pelabuhan dan jalan tol. Aset NTB Sendiri yang rencananya akan di jual yaitu Lombok Internasional Airport (LIA), Pelabuhan Badas Sumbawa Barat, Pelabuhan Lembar Lombok Barat, Pelabuhan Carik KLU, Pelabuhan Bima juga masuk dalam daftar rencana aset yang akan dikelola asing. [ kbr/05]

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook