Al Quds dan Ambang Krisis Baru Kemanusiaan

Kabar Berita   |   Internasional  |   Sabtu, 09 Desember 2017 - 21:42:49 WIB   |  dibaca: 134 kali
Al Quds dan Ambang Krisis Baru Kemanusiaan

Foto : KaBer/ACT

KABARBERITA.CO.ID -- Ambang krisis baru kemanusiaan, telah ditabuh simultan dengan pengakuan Amerika atas Jerusalem atau Al Quds sebagai Ibukota Israel. Menafikan negara Palestina dan Al-Aqsha di dalamnya sebagai jantung spiritual umat Islam dunia membawa pengaruh signifikan bukan hanya bagi Palestina.

Bagi ACT Foundation yang sudah lama berkecimpung di ranah krisis kemanusiaan di Tanah Air dan Dunia, krisis kemanusiaan Palestina fluktuatif, jika menyederhanakan “Palestina di abad XI”, meskipun kalau mengacu fakta sejarah, sudah pasti adanya penguasaan yang eskalatif sehingga bicara Palestina tinggal narasi nestapa tentang Jalur Gaza, dan West Bank di mana ada Al Quds (Jerusalem) didalamnya.

Palestina hari ini, negeri “langganan bombardemen”, diusik kenyamanannya, dirusak fasilitas penopang kehidupannya, bahkan yang fenomenal dan menyakitkan dunia, Jum’at 14 Juli lalu, Masjid al-Aqsha ditutup dan melahirkan gelombang protes dunia. ACT Foundation meraih amanah rakyat Indonesia dalam menolong krisis kemanusiaan di Palestina. Setiap gangguan atas Palestina, rakyat Indonesia ikut merasakannya dan berduyun-duyun mengulurkan bantuannya sebagai wujud persaudaraan yang kuat.

Kini terjadi pengakuan sepihak atas Jerusalem, kawasan netral yang didalamnya terdapat masjid Al-Aqsha. Ini bukan pengakuan biasa, dan bukan oleh Israel, melainkan oleh Amerika Serikat, anggota penting Perserikatan Bangsa-bangsa – sebuah organisasi yang seyogyanya berdiri netral menjaga harmoni dan kedamaian dunia. Menilik hal itu, ACT Foundation menyatakan, dunia harus bersatu mempertahankan status Jerusalem sebagai kota suci Tiga Agama: Islam – Kristen – Yahudi, dan Jerusalem Timur bagian dari Negara Palestina. Sikap ini berdasarkan keinginan kuat mencegah eskalasi kemarahan dan penolakan menjadi perlawanan fisik.

Jerusalem dengan Al-Aqsha, memuat dimensi-dimensi yang terlalu kuat untuk bisa dikendalikan kekuasaan manapun. Pertama, dimensi spiritual. Bujukan, lobby bahkan ancaman mungkin bisa mengendorkan bahkan melepaskan komunitas bahkan sebuah bangsa untuk kepentingan ekonomi, tapi tidak untuk spiritual. Artinya, penguasaan sepihak untuk aset spiritual sejumlah agama sekaligus, memicu penolakan hingga perlawanan untuk mempertahankannya habis-habisan.

Kedua, dimensi politik. Dunia sudah cukup lama mengikuti krisis Palestina dan memperoleh pemahaman memadai posisi dan kepatutan internasional seperti apa yang layak didukung dan sikap antarbangsa mana yang layak digugat. Bagaimana Israel meraih pencapaian politiknya saat ini, dunia faham; pun bagaimana Palestina diperlakukan selama ini juga sangat dimaklumi dunia. Hal ini cukup untuk melihat bagaimana sikap dunia dipetakan dalam konstalasi hubungan Palestina-Israel. Khusus untuk sikap Amerika Serikat atas Jerusalem, nyaris tak terdengar ada negara yang mendukungnya.

Ketiga, dimensi sosial. Krisis Palestina telah membuka hati dunia dan membuka diri menyantuni rakyat Palestina, bahkan memberi ruang hidup bagi warga Palestina yang berdiaspora di banyak negara. Semangat dunia “Bersatu untuk Palestina” memberi energi luar biasa seiring derita yang ditimpakan Israel atas Palestina, dan itu sekaligus membuka mata dunia, bagaimana pemerintah Amerika Serikat saat ini yang tidak dalam posisi terbaiknya menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang amat baik dalam melayani rakyatnya demikian terang-terangan mengakui semua kebijakan Israel seiring dengan pengabaiannya atas kedaulatan Palestina. Sikap itu telah Amerika Serikat: pemerintah, bahkan rakyatnya, ke ambang situasi benturan antarbangsa.

Kalau Amerika Serikat mempertahankan sikapnya, krisis kemanusiaan global di ambang mata. ACT Foundation menyatakan, Amerika Serikat bersungguh-sungguh mempertimbangkan besarnya krisis kemanusiaan yang diakibatkan kekerashatiannya. Tidak masuk diakal, mempertahankan sikap yang akan memicu krisis global di mana tak satu pun bangsa memberi nilai positif atas sikap itu. Takkan ada kemenangan hakiki bahkan jika Amerika Serikat menumpahkan semua kekuatan militernya untuk mempertahankan kekeras-hatian sikapnya- kecuali hanya kesengsaraan global berbalut kemarahan.

Pemerintah Amerika Serikat, dengan demikian, telah menyatukan dunia dan menempatkannya sebagai fokus perlawanan dunia atas kejahatan kemanusiaan sekaligus kesepakatan antarbangsa untuk menjaga harmoni dunia. Sikap Amerika Serikat, menyatukan dunia menggalang perlawanan tanpa kata akhir yang meluas dan muncul dalam wujud yang tak terbayangkan. Inikah yang Amerika Serikat inginkan? [ KaBer/ACT ]

 

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook