Asyari Usman : Politikus Sumbu Pendek, La Nyalla Mudah Menyala

Kabar Berita   |   Opini  |   Senin, 15 Januari 2018 - 15:54:05 WIB   |  dibaca: 147 kali
Asyari Usman : Politikus Sumbu Pendek, La Nyalla Mudah Menyala

Wartawan senior dan tokoh Media, Asyari Usman. [ Foto : Istimewa]

KABARBERITA.CO.ID‎ -- Semua kejadian ada hikmahnya. Dalam hal La Nyalla Mattalitti (LNM) yang marah-marah karena tak jadi ikut pilgub Jawa Timur, hikmahnya adalah bahwa politisi kader Gerindra itu terbilang hampir tak punya sumbu. Alias, sumbu pendek. Dia gampang meledak-ledak. La Nyalla begitu mudah menyala.‎

Bagi Prabowo Subianto (PS), kasus sumbu pendek ini bisa dijadikan pelajaran agar di masa yang akan datang perlu lebih hati-hati lagi dalam urusan biaya yang harus disediakan oleh seorang bakal calon yang ingin ikut pilkada. Bisa jadi La Nyalla menyangka uang 40 miliar yang harus disediakannya itu adalah untuk pribadi PS. Padahal, uang itu akan digunakan untuk honor para saksi di 86 ribu lebih TPS (tempat pemungutan suara) di seluruh Jawa Timur.

Rasanya, tak mungkin juga La Nyalla tidak tahu penggunaan uang itu. Tetapi, bisa jadi dia mengira bahwa sekitar 200 ribu saksi TPS tidak diberi uang makan.

Ke partai mana pun La Nyalla pergi, dia tidak akan bisa mengelakkan dana sumbangan untuk proses pilkada. Semua partai pasti akan meminta dana untuk membiayai tahapan pilkada, terutama pada hari H pilkada tsb.

Setiap parpol memberlakukan syarat itu. Biar pun partai yang kaya raya, seperti PDIP, Partai Demokrat, Partai Golkar, dll. Bahkan, bisa jadi ketua umum parpol yang “tidak sekaya PS” akan mengenakan tarif yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari sekadar biya saksi TPS. Sebab, ketum atau pemilik partai sudah biasa minta “uang mahar”. Semacam “uang hangus”-lah negitu.

La Nyalla termasuk diminta “tak banyak”, hanya 40 miliar rupiah. Kalau dihitung biaya-biaya lain, La Nyalla harus menyediakan sekitar 60 miliar untuk membiayai beberapa tahapan pilkada sampai hari pencoblosan.

Gerindra tidak sampai sebegitu jauh. Saksi hidup telah menyampaikan testimoni mereka. Ridwan Kamil (walikota Bandung) dan Sandiaga Uno (wagub DKI) mengatakan bahwa PS tidak pernah meminta mahar ketika Gerindra mengusung mereka.

Kita berharap agar LNM menyadari bahwa dia telah mengkhinati kekaderannya dengan memgatakan PS meminta 170 miliar. Dengan mengatakan itu, LNM tidak hanya sekadar marah karena tak jadi ikut pilgub Jatim. Boleh jadi ada pihak lain yang sengaja ingin menjatuhkan nama PS lewat mulut LNM.

Semoga bukan itu tujuan pembeberan peristiwa oleh LNM. Mudah-mudahan saja La Nyalla sedang membersihkan sumbunya yang pendek itu. [KB/*]‎

Oleh: Asyari Usman [wartawan senior]

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook