Tak ada Matahari Tunggal di Pilkada Kota Bima, M16 Menilai Peta Dukungan Paslon Relatif Imbang

Kabar Berita   |   Politik  |   Rabu, 21 Maret 2018 - 13:23:40 WIB   |  dibaca: 42 kali
Tak ada Matahari Tunggal di Pilkada Kota Bima, M16 Menilai Peta Dukungan Paslon Relatif Imbang

Direktur M16, Bambang Mei Fimarwanto, SH dan Sekretaris M16, Lalu Athari. [Foto : KB/Ist]

KABARBERITA.CO.ID -- Kampanye pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima 2018, sudah memasuki bulan ke dua, sejak 15 Februari 2018 lalu. Dari tiga  Paslon yang bertarung, dua pasangan yang  terlihat terus bergerak tanpa henti menemui basis konstituensi secara masif tiada jeda.

‎Yakni pasangan Nomor  Urut 1, H A Rahman H Abidin-Hj Fera Amelia atau yang dikenal dengan pasangan Manufer dan  Paslon Nomor Urut 2 H Muhammad Lutfi- Feri Sofiyan, SH (Lutfer). Kedua pasangan ini, relatif saling unjuk kekuatan dengan roadshow ke kelurahan-kelurahan untuk mengukuhkan tim sukses. Seolah saling menunjukkan dominasi dukungan, antara petahana dan penantang baru.

‎Paslon Lutfi-Feri sendiri diusung sembilan Partai Politik, termasuk PAN yang menjadi pememang dalam Pemilu Legislatif sebelumnya. Termasuk Golkar dan Gerindra yang menjadi pemenang kedua dan ketiga. Ketiga Parpol ini bahkan menduduki kursi pimpinan dewan. 

Melihat tingginya  dukungan terhadap pasangan ini, menunjukkan jika mesin partai cukup memengaruhi, demikian juga dengan ketokohan pengurus parpol yang duduk dikursi dewan. 

‎Dengan konfigurasi bloking  politik seperti itu , Mi6 memandang bahwa dalam Pilkada kota Bima "Tidak ada Matahari Tunggal"karena  peta dukungan politik  ( baca: back up ) para Paslon yang bertarung relatif imbabg dan memiliki karakteristik yang impresif di mata publik Bima . 

Demikian dikatakan Direktur Mi6 , Bambang Mei Fimarwanto, SH melalui siaran  pers yang didamping sekretaris Mi6 , Lalu Athari Fadullah disampaikan kepada Media , Rabu 21 Maret 2018. 

‎Selanjutnya, Didu panggilan akrab direktur Mi6 mengatakan Paslon Lutfi- Ferry dengan back up  sembilan mesin partai, maka wajar jika pasangan dengan tagline perubahan ini optimis bisa  memenangkan pertarungan 27 Juni 2018 mendatang. 

‎‎Kata Didu pasangan ini tidak hanya mengandalkan besarnya dukungan partai politik, namun juga mencoba merasionalkan gagasannya untuk mengubah Kota Bima lebih baik.

"Disetiap kegiatan kampanye dan pengukuhan tim di kelurahan, diselipkan bedah visi-misi dan program sebagai jawaban atas berbagai problem daerah selama ini," ujar didu yang juga mantan ED Walihi NTB dua periode ini.

Ia mengapresiasi daya jelajah politik Lutfi Ferri secara "day by day"  menemui konstituen dengan efektif dan taktis terkesan merakyat dan  tanpa protokoler yang ketat  

‎Didu mengulas namun bukan berarti pasangan ini mudah menjinakkan kekuatan petahana, H A Rahman H Abidin- HJ Fera Amelia. Meskipun hanya diusung tiga partai politik, yakni Demokrat, PKS dan PDIP. 

‎Didu menambahkan keduanya pada Pilkada 2013 adalah rival politik dengan perolehan suara signifikan.

Rahman yang berpasangan dengan Qurais saat Pilkada 2013 merauf suara 27 ribu lebih dan Fera saat itu mendapat 22 ribu dukungan. Jika dihitung secara matematis, maka dukungan cukup signifikan.

" Dibandingkan dengan Feri Sofiyan yang saat itu juga mencalonkan diri memeroleh lebih 6.000 suara," lanjutnya.

Sebagai petahana,ujar Dirut Mi6,  Rahman tentu diuntungkan pada tingkat popularitas dan elektabilitas. "Ditambah lagi bergabungnya dua kekuatan, sambungnya lagi.

‎‎‎Sementara itu, sambung Sekretaris Mi6, LaluAthari meskipun Fera tidak lagi menjadi ketua Partai Golkar, namun diduga masih memiliki loyalis yang setia dan solid.

‎"setidaknya sebagai trah kerajaan kesultanan Bima, Fera masih dipandang pengikut yang setia yang luas ," tambahnya.

Bagi Lalu Athari melanjutkan terkait  Subhan-Wahyudin (SW) - Mataho, juga tidak bisa dianggap remeh. Meskipun daya gampur melalui kegiatan kampanye tatap muka terbatas dan dialogis, tidak se massif dua pasangan lainnya. Namun, Subhan memiliki pendukung militan.

"Ini adalah pertarungan ketiga bagi Subhan dalam kancah politik Kota Bima," ulasnya.

Sebagaimana diketahui Perolehan suaranya pada Pilkada 2013 lalu terbilang cukup signifikan, yakni 15 ribu lebih suara dengan tujuh pasangan calon saat itu. Subhan memiliki kantong basis yang jelas, yakni wilayah Kecamatan Raba dan Rasanae Timur.

 "Bukti masih adanya dukungan terhadap  Subhan, karena mampu meraih dukungan 14 ribu lebih untuk maju melalui jalur perseorangan," imbuh Athar yang juga Sekretaris DPD KNPI NTB ini.  

‎Lebih jauh Didu menambahkan,  S-W Mataho tinggal merawat dukungan tersebut dan menambah daya gempur melalui soliditas timnya. Pasangan Nomor Urut 3 ini memang memilih cara berbeda (unique ) dengan dua calon lainnya.

"Ketika  yang lain memobilisasi pendukung disetiap kegiatan kampanye tatap muka dan dialogis, maka Subhan-Wahyudin memilih blusukan. Masuk dari gang dan lorong dan menyapa langsung warga," jelasnya 

‎Bahkan rumors yang beredar , ungkap Didu  SW Mataho mulai memasang target di Kecamatan Raba dan Rasanae Timur 20 ribu suara. Mengunci basis dan mengeruk suara di tiga kacematan lainnya, yakni Rasanae Barat, Asakota dan Mpunda.

‎"Dengan masih panjangnya masa kampanye, memungkinkan semua paslon menset ulang strategi pemenangannya   untuk mendulang suara," pungkas Dir Mi6, Didu

Sembari menambahkan dalam  Pilwakot Bima diprediksi bakal ada kejutan politik yang tak terduga seiring meningkatnya adu kuat design propaganda politik yang elegan dan penuh kehormatan politik yang satria. [KB09/*]

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook