Teror Bom Bunuh Diri, Siapakah yang Bersalah?

Kabar Berita   |   Opini  |   Senin, 14 Mei 2018 - 14:11:04 WIB   |  dibaca: 56 kali
Teror Bom Bunuh Diri, Siapakah yang Bersalah?

Syaiful Hadi

HANYA sedikit yang diperlukan untuk membawa negara ke tingkat kemewahan tertinggi dari barbarisme terendah tetapi perdamaian, pajak mudah, dan administrasi peradilan yang dapat ditolerir: semua sisanya disebabkan oleh hal-hal alamiah, tutur "Adam Smith".

Terorisme dan radikalisme atas nama agama nyata ada. Itu dikarenakan pendidikan agama di negeri ini gagal diterapkan. Kita harus berbesar hati mengakui itu sebagai penyakit umat, lalu basmi. menuduh teror sebagai pengalihan isu dan rekayasa. Cara untuk sembuh dari penyakit, akui penyakit itu, lalu obati. Jangan justru kita lari dari realitas dan kondisi masyarkat kita.

Berkeping-kepingnya nyawa manusia oleh satu keluarga yang mengebom tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. dan terakhir di Sidoarjo. Mereka itu baru saja pulang dari Suriah, belajar strategi teror. Masih ada 500-an orang lagi yang masih berkeliaran.

Kembali dari Suriah 500, termasuk di antaranya keluarga kata Kapolri Jenderal "Tito Karnavian" mengungkap hasil investigasi tim Polri, dalam konferensi pers mendampingi Presiden Jokowi di RS Bhayangkara Surabaya.

Tapi siapakah kemudian yang bersalah di negeri ini? Wahai para teroris, kami bakar hati ini, kami bakar semangat ini. Bantai teroris, tembak mati teroris. Mereka adalah sampah negeri ini. Kalimat inilah yang pantas kita ucapkan atas perilaku bejat para teroris bunuh diri ditempat ibadah yang mulia itu.

Dan kami tidak menyalahkan ibu yang malang menyuruh anaknya yang mungil itu mengebom rumah ibadah. Saya menyalahkan kebangsaan kita. Menyalahkan kemana para elit negeri ini. Apakah tidak puas dengan semua sandiwara politik di bangsa ini.

Saya menyalahkan para politisi yang mengeksploitasi kemarahan, bahkan penderitaan orang-orang kecil, dan mendorong mereka mengambil jalan yang sangat fatalistik sesat akan paham teologi maut yang menjeritnya.

Saya menyalahkan para agamawan yang memperkaya diri dan kemaruk akan kekuasaan. Agamawan yang menjadikan orang-orang susah ini sebagai kayu bakar untuk api kekuasaannya.

Kita yang memilih memakai agama untuk provokasi ketimbang aksi kasih nyata. Agamawan yang tangan kanannya ada di kantong politisi dan tangan kirinya di saku cukong.

Ini adalah problem struktural. Kita boleh marah. Kita boleh membuat jutaan tagar, bikin seribu malam duka, mengamuk di media sosial. Besok mentari terbit lagi dan kita pasti lupa.

Kita lupa bahwa bangsa ini busuk karena elite politik, elite agama, dan bahkan para ilmuan ikut terlena dengan situasi hiruk-pikuk politik negeri ini.

Islam di Indonesia sedari dulu, para ulama kita telah mengajarkan Islam yang rahman-rahim. dan Islam Rahmatan Lil Alamin Tapi dengan kesombongan kita di negeri ini sampai para elit lupa dengan sesatnya segelintir masyarakat kita atas dogma agama yang keras itu.

Coba renungi tentang makna iman. Secara sosial, keberimanan bukanlah dilihat dari seberapa sering kamu menyebut nama Tuhan, bukan pula pada seberapa banyak jejak ibadah di tubuhmu, bukan pula pada seberapa banyak kamu menggutip ayat dan hadis.

Secara sosial, keberimanan bisa dilihat pada sejauh mana kamu memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarmu. Jika kamu bisa menghadirkan cinta kasih dan rasa sayang pada segala hal di sekitarmu, dunia sosial akan melimpahimu dengan cinta.

Dunia sosial tak bertanya apa ideologimu. Dunia tak bertanya apa agamamu. Namun selagi kehadiranmu memberi rasa sejuk pada banyak orang. Kamu akan berlimpah cinta dari masyarakat sekitar. Kamu telah membumikan seluruh ajaran langit dalam tindakan sederhana yang bermakna bagi semua orang.



Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Profil Kabar Berita

Kabar Berita


Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh



Komentar Facebook