Investigasi IndonesiaLeaks Ternyata Menyimpang Secara Kaidah Jurnalistik

0
119

Karya jurnalistik sejatinya adalah hasil laporan yang secara konkret menggambarkan beberapa fakta atas suatu peristiwa berdasarkan bukti – bukti dokumentasi yang otentik dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, bukan hanya sekedar hasil dugaan dan asumsi semata. Selain diyakini sebagai fakta yang otentik, karya jurnalistik secara teoritis juga harus bersifat objektif, independen dan jauh dari kepentingan politis.

Hal inilah yang kemudian dikritisi oleh Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (KPSK) Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, Muradi, yang menilai bahwa hasil investigasi Indonesialeaks tentang aliran dana yang tertuang dalam buku merah anak buah importir daging Basuki Hariman, sangat kental nuansa politisnya, ketimbag memuat fakta – fakta yang disertai bukti yang jelas.

Muradi melihat, hasil investigasi IndonesiaLeaks begitu banyak menggunakan kata – kata “diduga” yang menunjukkan bahwa hasil investasi tersebut masih belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya dan masih bersifat asumsi.

“Tidak ada kata-kata diduga menerima atau sebagainya,” ujar Muradi saat dihubungi di Jakarta, Selasa (16/10).

Apalagi, hasil investigasi tersebut terkesan langsung “menunjuk hidung” ke beberapa nama tokoh penting, hal ini menurut Muradi sangat bertentangan sekali dengan kaidah jurnalistik yang sebenarnya tidak boleh dijadikan alat untuk menyimpulkan atau memvonis seseorang, karena sebenarnya pembuktian hukum (vonis) hanya bisa dilakukan melalui proses hukum di pengadilan, bukan melalui karya jurnalistik.

Dalam kesempatan itu juga, Muradi menilai bahwa hasil penelusuran IndonesiaLeaks tersebut sudah jauh menyimpang dari kaidah jurnalistik yang baik dan benar, terlebih lagi, hasil investigasi tersebut secara nyata telah mendahului wewenang pengadilan dengan menebar opini dan secara gegabah langsung memvonis orang bersalah dalam kasus tersebut.

Terlebih lagi, hasil investigasi tersebut terlihat sangat tendensius ke sosok – sosok tertentu, sehingga lebih mengarah pada upaya provokasi yang rentan dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan politik tertentu. Menurut Muradi, karya jurnalistik yang tendensius dan provokatif seperti ini, sudah jelas melanggar kaidah jurnalistik yang seharusnya independen dan objektif, tanpa ada embel – embel kepentingan politis.

“Proses investigasi memang tidak masalah dan bisa dikatakan sesuai jurnalistik yakni bagaimana mencari sumber berita. Tapi pemanfaatan dari hasil investigasi itu yang bisa dikaitkan dengan politik,” jelasnya.

Lebih lanjut Muradi juga mengatakan, dalam kasus perobekan barang bukti berupa buku merah di gedung KPK seperti yang dituduhkan oleh IndonesiaLeaks, pihak Polri maupun KPK sendiri sebenarnya sudah memberikan hak jawabnya untuk mengklarifikasi hasil laporan tersebut, dan dalam pernyataannya, KPK dan Polri menyatakan bahwa tidak ada bukti yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut benar terjadi. Ketua KPK Agus Rahardjo juga menyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan rekaman closed circuit television (CCTV) tidak menemukan adanya perobekan seperti yang diungkap Indonesialeaks.

Tapi lucunya, setelah KPK dan Polri memberikan pernyataannya, IndonesiaLeaks tetap ngotot dengan hasil investigasinya, dan malah balik menantang KPK dan Polri untuk mengusut kasus yang jelas – jelas secara hukum tidak terbukti. Hal inilah yang kemudian mengindikasikan, bahwa penelusuran IndonesiaLeaks bukanlah bertujuan untuk membuat karya jurnalistik, melainkan untuk membunuh karakter seseorang atau tokoh penting demi memuluskan tujuan politis tertentu.

“Saya melihat ada upaya character assassination (pembunuhan karakter) dalam temuan IndonesiaLeaks karena dilakukan tanpa konfirmasi,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here