CERPEN : Indahnya Cinta Pertama Di Masa SMA

0
62

KabarBerita.co.id – Masa SMA adalah masa paling berharga juga paling bahagia untuk ku. Dimana semuanya hampir dirasa di sana. Salah satunya adalah cinta. Cinta adalah sejuta rasa yang terdapat pada satu tempat yaitu hati, yang memeberikan 2 jenis air mata. Air mata bahagia dan air mata kecewa. Tapi itulah rasa, kadang tak semua rasa harus terasa manis saja, yang pahit nya sekalipun harus kita kecap untuk melatih rasa sesak yang selalu kita jumpa tiba-tiba.

Sebenarnya, Cinta bukan hal baru buat ku. bukan pula hal yang asing untuk ku rasakan. Aku sering terjatuh di dalamnya dari sejak masa SMA di mulai. Namun yaaa namanya juga anak baru masuk SMA masih belum memahami makna cinta yang sebenarnya. Semasa aku SMA aku telah beberapa kali merasa hati ku terjatuh. Namun tak terambil karena terlalu jauh. Bertepuk sebelah tangan, yaa istilahnya bertepuk sebelah tangan kalo jaman sekarang. hingga akhirnya aku dekat dengan teman akrab ku, kedekatan ku bukan hanya sekedar dekat. Tapi juga tanpa sekat.
Kita sebenarnya telah saling tau dari kelas satu, namun karena semasa kelas satu aku terlampau sibuk mengurusi orang yang katanya menyayangi, hingga saat kelas dua SMA aku mulai sendiri dan mulai dekat benar-benar dekat dan juga benar-benar perharap pada ia yang ku sebut teman dekat.

Waktu demi waktu berlalu, aku mengenalnya lebih dekat, dan mengetahuinya lebih jauh. Hari ku akhirnya lebih berwarna saat aku mulai menyukainya. Merah, hijau, jingga, kuning,dan biru semuanya tampak sangat jelas dan menjadi warna favorit hidupku. Goresan tipis di bibirnya, menjadikan ku mempunyai hobby baru. Yaitu melamunkanya. Bagaimana tidak, senyumnya tak bias ku lupakan begitu saja.

Cinta mulai berkembang mekar mengalahkan bunga mawar. Ini bukan kali pertama aku jatuh hati, ini sudah yang ke berkian kali. Aku sudah kelas dua SMA namun seperti baru-baru saja aku merasakan rasa yang luar biasa. Dia bukan cinta pertama ku. namun dia orang pertama yang membuatku merasakan cinta sebenarnya. Pertama, kedua, ataupun ketiga, itu bukan masalah. Yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir. Tapi yang terakhir sudah pasti menjadi penghuni hati. satu tahun aku bersamanya di kelas dua SMA, satu tahun pula cinta ku tak ada balasnya.

Kelas tiga SMA mulai ku injak bersamanya, bersamnya cinta pertama ku, bersamanya bahagia ku, bersamanya harapan ku.

“Deratna” andi memanggiku seperti itu. Andi, yaa andi nama cinta pertama ku. Andi yang membawaku pada harapan tinggi yang belum dapat ku gapai karena andi yang menggantungnya terlalu jauh. Sempat ku lelah, sempat ku ingin menyerah. Ingin mengembalikan cinta yang salah. Namun keajaiban terjadi, aku merasa bersemangat lagi untuk menunggunya membuka hati. entah kenapa tekat hati mengingini dia untuk menjadi pengisi. Hingga suatu hari, aku berada di hari paling menyenangkan di dunia. 08-08-18 ( 08 agustus 2018 ) tanggal yang cantik bukan? Seperti hari yang cantik pula. Tak hanya hari dan tanggal yang cantik serta bahagia.

Namun momen yang menakjubkan untuk di terima. Secarik kertas berisi beberapa kata yang tak terduga, dan samudra di atas awan yang menawan menjadikan ku wanita terbahagia di dunia. Kata-kata yang tertulis memintaku untuk menjadi bagian darinya, sungguh membuat air mata ku jatuh tiba-tiba.
Hari minggu saat itu andi memutuskan untuk mendaki sebuah gunung bersama ke 3 teman yang lainya. Mereka berangkat pagi hari. Aku melepasnya dengan was-was. Bukan tak percaya, namun aku tak mau ia kenapa-kenapa. Aku tak mampu menahannya karena itu kesukaanya. Aku hanya mampu berdoa agar cinta pertama ku pulang dengan selamat dan masih dengan senyumanya yang hangat. Namun harap ku lebih dari harap. Tak hanya selamat dan senyuman yang tetap hangat. Tapi ia juga membawa cinta dan membalas segala rasa yang selama ini ku punya. Selembar kertas dan beberapa poto menjadi bukti dari cintanya. Ia sengaja mendaki gunung hanya demi tulisan yang ingin ia abadikan di ketinggian. Ia pulang hari senin siang. ia mengabariku sambil mengirimkan poto selembar kertas yang di backroundni oleh samudra di atas awan yang menakjubkan. Sekolahnya ia korbankan. Badanya kesakitan hingga 3 hari setelah menapakan kaki bersama awan yang tenang. Hari selasa, ia masing tak bisa duduk di kelas dan belajar seperti biasanya karena badan yang linu dan suhu panas yang belum turun. Tapi di hari itu, ia mengaja ku bertemu di sebuah café pada sore hari.

*Sepulang sekolah aku bergegas ke café dan menemui andi

“dimana, ade udah di café (kata ku berbicara dengan andi lewat telpon setelah tiba di café ternyata andi taka da di sana)”

“oh kamu udah di café, yaudah bentar, aku kesitu (jawab andi dan langsung mengakhiri telpon)”

*setelah beberapa saat aku menunggu andi sambil memesan minuman, andi datang dengan kaki yang berjalan terlihat kesakitan

“hey. Lama yah? Maaf kaki aku masih linu (kata andi sambil duduk di hadapan ku)”

“gapapa, lagian ga lama ko. Ohh iya kakinya emang masih linu banget yah”

“engga, engga, besok juga sekolah ko”

“yaudah sekolah, gaada kamu gaada yang ganggu aku”

“lah kalo di ganggu marah, ga di ganggu rindu gimana sih (celotehan andi sambil memasang muka songong)”

“dihh siapa yang bilang rindu, aku Cuma bilang kalo kamu ga sekolah gaada yang gangguin aku”

“ohh jadi ga rindu nih, yakin?”

“dihh iya lah ngapain rindu rindu engga engga engga apaan sih”

“yehh tau gini aku ngecamp aja yah di gunung satu bulan. Atau engga satu minggu aja deh”

“yaudah sana balik lagi sana nginep, mau setaun juga terserah”

“serius nih terserah? Yaudah yah aku pulang mau ngecapm satu tahun biar ada yang rindu”

“ehhh apaan sih baperan amat, iya iya ah udah aku iya emang sedikit rindu, gada yang ganggu 3 hari sepi banget di sekolah, berasa ada yang kurang aja sih”

“cakelah baru ngaku, huhh takut di tinggal lagi yahh? Kamu khawatir yah kalo aku ngecamp atau pergi jauh dari kamu, kamu suka ga tenang yah? Iya lah tau pasti kaya gitu.”

“dihh ngomong apaan sihh, engga. Sana kalo mau pergi sana yang jauh sekalian”

“jangan gitu dong jangan keselan, aku susah kalo jauh dari kamu sayang”

“uhukkkk, (aku tersedak minuman karena mendengar andi menyebutku sayang) sa sa sayang?”

“iya sayang, oh iya kamu udah paham kan tulisan yang waktu aku tulis di gunung trus aku potion ke kamu?”

“ohh iya soal itu emmm…”

“jadi gimana? Aku sayang sama kamu de, aku mau kita jalan, maafin aku yang udah bikin kamu nunggu lama, sebenernya dari kemarin-kemarin perasaan aku sama kaya kamu, Cuma aku pengen ada momen buat ngungkapinya. Kamu udah sabar nunggu aku buka hati, kamu berhasil yakinin aku lagi, aku hanya butuh satu jawaban, I love you deratna”

Jika waktu ku kuasai pada saat andi membicarakan langsung semuanya, akan ku hentikan akan ku biarkan waktu berdetik hanya pada saat itu. Pada saat matanya yang tajam melarutkan ku dakam-dalam, pada saat itu hati ku tak terkendalikan kegirangan tak karuan, pada saat itu jantung berdebar sangat kencang, saat itu cinta pertama ku memintaku menjadi sebagian dari dirinya. Sungguh aku menyadarkan diri berkali-kali, aku harap semua ini bukan mimpi. Sesekali aku tampari pipi, dan benar ini nyata ini sungguh. Aku mendapatkan cinta pertama ku. aku dicintanya juga. Hingga aku tak mampu berkata-kata

“ini yang namanya penantian panjang, penantian yang berujung pada kepemilikan, sempat pikiran ku berpendapat kamu bukan peruntukan. Aku salah jalan, aku mengalir tanpa tujuan. Satu tahun lebih memang mungkin waktu yang belum terlalu panjang, namun untuk sebuah perasaan yang tertanam itu cukup matang untuk di ungkapkan. Aku juga menyayangi mu. Kamu mampu menjadi segalanya. Kamu teman di segala bidang, kakak laki-laki yang selalu memberikan nasihat juga saran, orang dewasa yang selalu menenangkan, mampu mendengarkan dan memahami juga memberi solusi apapaun masalahku. Dan mungkin sekarang ada satu tambahan, yaitu kau sebagai pasangan yang akan sesalu ada di samping menemani pergantian hari dengan tawa dan juga bahagia.”

“bukan hanya mungkin, tapi itu pasti. Sudah tugas ku membuat kamu bahagia, dan tertawa, maaf selama ini kamu terlalu lama menahan perasaan, dan ini haslinya, ini balasan untuk mu. Aku membuka hati ku, aku percaya pada mu, dan aku menyayangi mu.”

*setelah percakapan itu berlalu, aku kembali bercanda layaknya teman. Sepulang dari café senyuman tak dapat ku lepaskan. Entahlah, debu pun memiliki warna di hari itu, langit begitu cerah, angin juga sejuk sesampainya di rumah, mata yang terus mengatakan aku bahagia, membuat ku tak mampu sedikit pun lepas dari potret saat andi membicarakan perasaanya. Ketika waktu tidur tiba, aku tak menggunakanya untuk istirahat, aku malah asyik bercerita lewat telephone dengan si cinta pertama. Padahal malam itu bukan malam pertama aku melakukan panggilan denganya, tapi aku merasa baru pertama saja berbicara lewat handphone yang sudah habis batunya. Hingga handphone ku mati dan aku pembicaraan ku terakhiri. Aku tetap belum mengajak mataku terpejam, seperti ada rasa yang ingin ku teriakan, AKU BAHAGIA, yaaa aku bahagia. Makasih tuhan, kau menghadirkanya sebagai segalanya untuku, kau memberikan ku satu titik kekuatan tambahan yang sangat menguatkan. ia titik pertama pertahanan ku, jika saja kau ambil lagi ia maka aku tak tau apa yang harus aku terka. Semoga ia bukan sementara, semoga pula tak akan ada luka-luka yang tercipta, semoga banyak bahagia yang ku rasa, semoga dia selama-lamanya.

Semenjak ia menjadi miliku, aku percaya bahwa kekuatan cinta itu ada dan juga nyata. Terhitung hingga hari sekarang, dimana aku sudah bersamanya beberapa bulan, aku selalu merasakan kebahagiaan, jikapun sesekali aku bersedih, aku tak memanggilnya masalah, itu hanya sebuah perdebatan biasa, hanya ketidak cocokan pikiran yang berujung pengintropeksian. Sekolah ku, hari ku, kegiatan ku terasa ringan saja. ia memberikan semangat dorongan juga ia tak pernah membiarkan ku bersedih. Tingkah-tingkah konyol selalu ia lakukan untuk membuatku tertawa terbahak-bahak. Pertemuan-pertemuan kita lakukan di luar sekolah. Cerita-cerita kita tunagkan lewat pesan singkat juga telpon yang setiap saat. Entah, aku tak pernah merasa bosan walu sekin lama bertukar pikiran, berbagi keluhan, ataupun mencciptakan kebahagiaan denganya. Semua ini sudah seperti kebutuhan saja, aku harap akan seperti ini selamanya tak akan ada kata bosan atuu pun ingin meninggalkan. Sungguh, cinta pertama ku benar-benar indah.
Aku tau semuanya ada masanya, aku paham manusia ada berubahnya, namun aku juga percaya takdir itu ada. Aku hanya berdoa bahwa takdir baik berada di pihak ku dan andi, berharap tak akan ada yang berbeda atau tertinggal di setiap masanya, aku ingin kita tetap bersama. berbagi rasa hingga kita tua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here