Hasil Temuan KNKT: Lion Air JT-610 Mengalami Kerusakan 3 Hari Sebelum Kecelakaan

0
43

KabarBerita.co.id – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akhirnya berhasil menemukan beberapa kerusakan yang dialami oleh pesawat Lion Air JT-610. Menurut catatan KNKT, kerusakan pesawat ternyata sudah terjadi sejak tanggal 26 Oktober 2018 atau tiga hari sebelum pesawat tersebut jatuh di perairan Karawang.

Dalam temuan awalnya, KNKT menyebutkan pesawat telah mengalami gangguan sejak penerbangannya dari Tianjin, Cina menuju Manado, pada 26 Oktober 2018. Mulai dari situlah, kerusakan berlanjut hingga ke penerbangan selanjutnya.

Menurut Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Nurcahyo Utomo, pada penerbangan Denpasar – Jakarta tanggal 28 Oktober 2018, sebenarnya pilot sudah merasakan kerusakan pesawat. Nurcahyo mengatakan bahwa kerusakan terdapat pada indicated airspeed, altutide disagree dan feel diferencial pressure.

“Lampu indikator menyala,” ucapnya di kantor KNKT, Rabu (28/11)

Nurcahyo menjelaskan, pilot saat itu juga telah melaporkan kepada manajemen Lion Air, bahwa pesawat telah mengalami masalah dalam eshort. Setelah mendapatkan laporan tersebut, bagian teknisi melakukan flushing atau pembersihan di pintu air data sebelah kiri dan stutic air data modul terkait keluhan tersebut.

Permasalahan tersebut, kata Nurcahyo, kembali dialami Lion Air PK-LQP (JT-610) saat melakukan penerbangan rute Jakarta-Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018. Saat itu, moncong pesawat mengalami naik turun, hingga akhirnya jatuh di perairan Tanjung Pakis, Jawa Barat.

Berdasarkan rekaman flight data recorder, tercatat adanya pergerakan secara otomatis untuk trim menuju ke bawah atau aircraft nosdown. Nurcahyo menjelaskan, juga tercatat adanya nosup yang menunjukkan naik turunnya moncong pesawat.

Investigator Kecelakaan Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ony Suryo Wibowo, juga menuturkan beberapa kerusakan yang terjadi pada penerbangan Lion Air Denpasar-Jakarta, meskipun bukan berarti pesawat tersebut tidak laik terbang.

“Hati-hati dengan kata tidak laik terbang. Karena tidak laik terbang ada kriterianya,” ujar dia.

Ony menjelaskan sebelum pesawat diizinkan terbang, teknisi harus memastikan keamanannya terlebih dahulu. Teknisi tersebut kemudian menandatangani buku manual dan ada buktinya dia telah melakukan perbaikan.

Menurut Ony, kerusakan pesawat yang akhirnya menimbulkan kecelakaan itu bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan juga oleh karena faktor – faktor lainnya.

“Ada aturan lain menyatakan, pilot adalah menjadi final judge saat pilot mau terbang akan melakukan pemeriksaan pesawat. Kalau ada perbedaan dia bisa membatalkan terbang,” tutur Ony.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here