CERPEN: Bagai Pelangi, Senja, dan Penghuni Keindahan Malam

0
29

KabarBerita.co.id – Pelangi memang indah bukan? Ia mempunyai banyak warna. Ia juga hadir ketika hujan yang menyejukan telah reda. Senja juga menakjubkan. Ia menutup hari dengan cahayanya yang tidak dapat membuat satu orang pun memalingkan diri. Dan Penghuni Keindahan Malam pun sangat luar biasa. Sinarnya yang berkerlipan di atas langit yang tenang membuat hati terkendali. Bintang juga Bulan saling menunjukan diri, siapa yang paling terang diantara mereka, siapa yang mampu banyak mencuri pandangan mata. Tapi, bukankah Pelangi. Senja, dan Penghuni Keindahan Malam itu hanya sekilas namun mampu meninggalkan bekas? Kehadiranya yang tanpa diharap dapat pergi dengan cepat ketika hati sudah bertekat untuk menetap.

Pelangi, indah juga penuh warna. Namun, untuk apa jika hadirnya hanya Datang untuk hilang. Senja, menakjubkan juga membuat orang yang melihatnya tak mampu memalingkan diri dari cahyanya yang cantik nan molek menutup hari. Namun, untuk apa pula jika hadirnya pulang pergi sesuka hati. Penghuni Keindahan Malam, banyak sinar yang terpapar di atas langit kelam yang tenang menjadikan malam jinak dan mereda semua berontak. Dan Namun, untuk apa jika hadir hanya di malam hari saja, tanpa memikirkan ku yang kacau saat siang hari tiba.

Kau tau? Pelangi itu senyummu. Senyum mu dan pelangi sama-sama sebuah goresan indah yang dapat menghilangkan gundah. Senja itu mata mu, yang menakjubkan ketika aku pandang dan aku tak mampu memalingkan diri di saat sudah terjebak di titik terdalam mata mu yang tajam. Penghuni Keindahan Malam itu diri mu. Yaaa, diri mu yang membuatku jinak dan mereda semua berontak. Namun, namun, namun, dan lagi lagi namun, semua itu hanya sementara, hanya sebenar saja.
Aku belajar banyak dari Pelangi, Senja, Dan Juga Penghuni Keindahan Malam. Bahwa sesuatu yang indah belum tentu abadi dan baik untuk diri juga hati. Jadi aku bertanya, di bagian mana yang menyenangkan dari Pelangi, Senja, Juga Keindahan Malam?

Nama ku Reliyas Gisya Miana, gisya panggilanku. Aku adalah wanita yang sulit untuk jatuh hati. meski umurku genap 18 tahun, aku belum pernah sekalipun mengikat hubungan. Bukan aku tak pernah punya rasa, namun rasa yang baru saja tumbuh sudah dirundung kecewa. Belum memiliki, namun sudah kehilangan, belum dicintai namun sudah di paksa pulang. Cinta ku, ku rasa tidak menyenangkan. Hanya membuat ku semakin berada pada lingkaran kesedihan. Cukup aku merasa penolakan di keluarga. Cukup pula untuk penolakan rasa. Rasa yang sudah di pelihara sekian lamanya, ternyata hanya jadi Pelangi, Senja, Juga Keindahan Malam saja. Ingin ku menyalahkan waktu yang menuntun ku mengenal mu, namun setelah ku pikir, ternyata bukan waktu yang harus disalahkan.

Aku aku aku yang salah, aku terlalu memakai rasa, hingga terjebak di dalamnya. Waktu baik membawaku pada mu. Mengenalkan semua yang berharga melalui rasa. Memberi tahu aku bahwa tak semua cinta memiliki pelabuhan. Tapi semua rasa pasti memiliki tujuan. Dan setiap usaha mengejar cinta juga rasa, tentunya memiliki persinggahan. Serta mungkin kamu menginginkan ku memahami anak hal ini. akan hal singgah. Mungkin pula kau mengajarkan ku untuk menjadi tempat singgah yang ramah, hingga tak hanya tempat istirahat yang ku persembahkan, tapi beberapa kenikmatan ku persilahkan. Tanpa menyadarai kau mempunyai tujuan yang kau inginkan.

Aku menyadari bahwa aku bukan tujuan mu setelah kamu memutuskan pergi berlayar lagi. aku tak apa saat itu, hanya saja sedikit sesak yang ku rasa. Bagaimana tidak? Kau pergi tanpa lambai tangan, tanpa ucap pisah. Seegois itukah kamu? hingga setelah aku jamu dengan segala yang ku punya pun kau melewatiku seperti itu. Kau tau? Kau telah mengundang ombak garang yang siap menghantam perahu layar mu. Ombak garang yang akan membawamu pada kesengsaraan. Karena kau telah buat rusak pelabuhan yang jika kau tak mampu mengucapkan terimaksaih, setidaknya ucapkan permisi, untuk menandakan bahwa kau akan pergi lagi. Bukan malah berbalik arah tanpa intruksi dan membuat ku kebingungan mencari. Aku mencari mu bukan ingin meminta ganti rugi atas apa yang telah ku sugukan pada mu di kemarin hari. Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa atau aku melakukan salah. Namun ternyata tak ada yang salah dari kepergian mu atau kehilangan ku. ini mungkin hanya masalah kesalahpahaman. Kamu yang menganggapku tempat singgah. Dan aku yang menyambutmu sebagai penetap yang tidak akan enyah.

Pelangi ku tak mempunyai warna, Senja ku tak memanjakan mata, Juga Keindahan Malam ku tak indah untuk di pandang. Yang ku ucapkan setelah kehilangan genggaman mu yang 1 tahun ini menjaga langkah ku. kenapa kamu pergi? Kenapa secepat ini? hati kita hampir saja terikat, kenapa kau tiba-tiba memberi sekat? Apa yang membuat mu kejam? Tega menghujam perasaan yang sudah tertanam. Egois mencabut paksa semua dari akarnya. Mematikan cahaya yang mulai terang untuk membantu hati ku berpenglihatan. Apa yang salah dari ku? kita tak sempat bermasalah, namun kenapa kau tiba-tiba mencari di lain arah?
Ilham Sugiana Anggara, ia yang menjadi Pelangi, Senja, Juga Keindahan Malam yang ku bicarakan tadi. Ia teman dekat ku di sekolah. Juga orang yang ku cinta untuk pertama dan terakhir kalinya.
Mengapa aku bilang pertama dan terakhir? Karena menurutku cinta hanya luka, dan sementara saja. mengingat keluarga ku yang tidak seperti keluarga pada umunya, aku semakin menguatkan pendapat ku sekarang. mengenai cinta juga hati. keluarga ku tak punya hati dan tak memakai cinta. Seperti halnya ilham, ia juga seperti itu. Namun ilham memainkanya dengan sangat mulus, hingga membuat semuanya seolah akan, namun pada akhirnya hilang.

Kau tau? Kebodohan terbesarku adalah mencintai. Ya cinta memang tak dapat di salahkan. Namun orang yang mencinta atau di cinta dapat menjadi tersangka. Aku, entahlah, aku korban atau pelaku. Keduanya sama saja buruk. Meringkus rasa lalu membuangnya. Aku benci mendengar cinta diantara siapa saja. bukan aku tak mau. Tapi aku tak mampu. Dunia seperti tak mengijinkanku bahagia dengan cinta dari siapa saja. cinta keluaraga atau pun orang yang membuatku berperasa. cinta Keluarga tak ku rasakan, cinta ilham pula tak ku dapatkan. Kejam bukan? Inilah kehidupan.

Aku bilang ilham adalah cinta pertama juga terakhir ku. bukan berarti aku tak akan mempunyai cinta-cinta yang lainya. Namun akan ku biarkan mengalir semestinya. Jika sudah porsi ku nanti juga akan menghampiri. Tak akan ku cari-cari. Cinta yang sungguh adalah cinta yang utuh. Aku takut jikalau aku ikut turun menemui cinta ku, aku kembali keliru. Menganggap tamu adalah orang yang tak akan melwatkan ku. aku takut menyugukan hati, bukanya kopi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here