CERPEN: Yang Selalu Kalah Di Mata Yang Tak Pernah Bersalah

0
32

KabarBerita.co.id – Kau tahu yah? putri kecil mu ini lemah, ia sering mengadu bahwa hidupnya terlalu berat, ia sering mengeluh bahwa bebannya terlampau penuh. Kau paham yah? bahwa aku Cika Cintiana, putri pertama dari 18 tahun pernikahanmu dahulu sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang dikerjakanya tak pernah di hargai. Ayah, apa kau juga sadar? mengapa aku sering terdiam di bawah nalar, sering menangis di tengah malam yang damai. Bahkan mencaci diri sejadi-jadi di saat kata demi kata dari mulut mu terlontar.

Ayahhh, di dunia tak ada yang sempurna. Di dunia tak ada yang tak pernah membuat salah. Pahamilah, aku yang sudah berusaha untuk melakukan semuanya sendiri ini tak sanggup menerima yang telah di kerjakan di injak-injak tanpa henti. Bukan ingin di puja, tapi hargailah. Aku wanita yah, aku sama seperti ibu, aku gampang menangis jika kau sakiti hati ini dengan bengis. Namun di hadapan mu, aku tak mau menampakannya, aku takut kamu semakin memandangku si cengeng yang tak berguna. Aku bukan munafik, ataupun berpura-pura baik, aku hanya sedang sedikit meyakinkan bahwa aku wanita yang tegar dengan kekasaran yang kau lakukan.

Apa yang kau mau? Anak seperti apa yang kau inginkan? Coba ceritakan, agar aku dapat melakukan yang kau harapkan. Agar aku tak terkena, makian atau omelan yang memuakkan. Agar aku menjadi anak yang didambakan. Agar aku tak merasa di asingkan. Agar aku merasa disayang. Agar aku tak di banding-bandingkan. Juga agar kau tersenyum senang tanpa ada segaris kemarahan seperti yang selalu terpampang ketika kita tepat berhadapan.

Sepertinya menyenangkan menjadi anak yang bersahabat dekat dengan sesosok ayah. Sepertinya tenang, tak ada perdebatan atau kekasaran. Damai juga mustahil untuk ku capai. Aku tak bisa seperti itu dengan ayah ku. Aku pembuat salah, sedangkan ayah ku tak mau melihat kesalahan yang membuat ku tampak kalah. Hanya kebenaran-kebenaran saja yang ia harapkan, namun ketika aku melakukan satu kekeliruan, beribu kebaikan ku tak pernah ia lihat ulang.

Mengerjakan pekerjaan rumah, dan pekerjaan sekolah sudah cukup lelah lalu ditambah ocehan sang ayah yang membuat hati luluh lantah. Sesekali aku membela diri, namun itu hanya memperburuk keadaan. Barang-barang yang ada di sekitar pasti akan ikut terlempar. Menundukan kepala, mengepalkan tangan, menguatkan cekraman rahang. Itu yang hanya bisa di lakukan ketika menahan kekesalan yang tak terluapkan. Aku sadar, seberapa buruknya pun ayah ku, seberapa kasarnya dia, dia tetap seorang ayah yang harus aku hormat dan turuti.

Namun jika hati sudah terlalu lelah untuk mengalah, aku tak bisa terus di bawah telunjuk ayah. Aku perlu sedikit membenahi diri agar ayah tak punya pikiran sempit tentang kehidupanku yang rumit. Aku sebenarnya tak salah, ayah juga tidak kalah. Ayah hanya kurang membuka pemahaman tentang sulitnya berjalan di kegelapan sendirian tanpa satupun tangan yang bisa di genggam.

Aku yah, aku mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci, menyapu, membereskan, semuanya ayah. Semuanya. Kau tak tau, aku sampai membersihkan sepatu mu, kau tak sadar bukan? Setiap kau berangkat berkerja sepatu mu selalu bersih terjaga. Siapa yang melakukanya? Aku ayah aku. Ayah, ayah bisa saja menyebutku pemalas yang tak berguna. Iya, mungkin karena ayah tidak pernah punya waktu untuk menyaksikan betapa kesusahannya aku mengatur waktu 24 jam ku untuk menjadi ibu rumah tangga yang juga memasak untuk anak kecil yang masih duduk di sekolah dasar, seorang kakak yang harus patut di contoh, seorang kakak yang tak boleh terlihat bersedih atau mempunyai beban di hadapan adik yang disayang, seorang pelajar aktifis yang mengurusi dan jadi bagian pengurus kegiatan sekolah, seorang murid yang harus mempertahankan pertasinya, dan seorang anak yang harus sabar karena perlakuan kasar.

Aku lelah, apapun hal yang di lakukan pasti salah, jika menurutmu semua ini hal mudah, kenapa menyuruhku yang selalu membuat ulah? Coba kerjakan sendiri, aku ingin tau mana yang kau sebut benar. Jika kau mampu, aku baru rela menerima satu tamparan yang kau daratkan.aku adalah aku yang berusaha menjadi beberapa peran dalam satu badan. Sebenarnya bukan sebuah bisa, melainkan sebuah terpaksa. Keadaan yang mendorong untuk melakukan semuanya. Apakah aku mampu? Jelas tidak! Aku hanya berusaha mengimbangi satu dan lain hal dengan 24 jam ku yang bahkan tak cukup untuk mengerjakan semuanya dengan tenang.

Ayah, bila kau temui diriku sedang dalam lamunan, dan kekosongan tatapan, kau tak perlu heran, aku hanya sedang memutar otar agar semuanya dapat terlaksana tanpa cacat. Karena aku bosan di salahkan, aku muak ketika ada bibir yang mengatakan bahwa semua yang aku kerjakan tak menorah hasil yang memuaskan.

Ayah, ini dunia ku, ini hidup ku, aku juga butuh kesenangan-kesenangan meski itu dapat melelahkan. Aku juga manusia yang akan muak jika terus menerus kau masukan kandang. Beri sedikit ruang untuk kegiatan positif yang aku lakukan. Karena diperhatikan namun dengan cacian, atau di abaikan tapi dengan tekanan itu bukan hal yang menyenangkan. Banyak hal-hal yang membawaku pada kebaikan. Banyak peluang-peluang yang menguntungkan, semuanya berdatangan. Tapi, tak dapat ku hampiri, karena beberapa hal yang selalu jadi pengunci. Aku ingin memulai, aku ingin berusaha. Jangan menghalangi, berikan jalan dan dukuan. Bukan ocehan yang membuat ku tertekan. Ayah, bukankah hidup itu sebuah pilihan? Dan ini yang aku pilih. Tetap pada di kebiasaan, yang mana setidaknya aku dapat menemukan tawa di balik lelahnya kenyataan. Kau memang perduli, tapi kau juga mencaci. Kau bukan menyuruhku bertahan tapi kau justru mematahkan harapan-harapan.

Ayah berhentilah, jangan menyalahkan kegiatan-kegiatan positif yang dapat menguntungkan. Salahkan lah kegiatan yang tidak seharusnya saya lakukan sendirian.

Hanya di luaran aku dapat tersenyum menyembunyikan beban, hanya di luaran aku mampu tertawa menyembunyikan kesedihan. Lalu sekarang, kau menyuruhku berhenti dari segala kesenangan palsu ku? dimana hati mu? Bukan kah kau manusia? Mengapa hidupmu seperti pohon pisang yang hanya punyai jatung tanpa hati. Ayah, mengertilah, pahamilah, ketahuilah, aku dirundung kesedihan di setiap waktu yang berdetik di rumah, di setiap sudut sepi yang membuatku kalah.

Perihal urusanku, perihal hobby ku, tak usah kau campuri. Aku bisa sendiri. Jikapun aku sakit karena lelah mengatur waktuku yang sedikit, kau tak perlu merasa menjadi tersangka. Aku mampu menahannya, sakit ku bukan sakit mu.
Menutup mata menutup telinga, salah satu hal yang membuatku tersiksa. Kau selalu tak mau tau tentangku, kau hanya mengurusi dunia-dunia mu, perduli akan hal-hal yang berurus denganmu. Kau selalu bilang aku kepala batu, karena aku selalu bertentangan dengan apa yang kau ucapkan. Kau tau kenapa aku seberontak itu? Karena kau yah! Kau yang tak pernah paham dan tak mau menyentuh hatiku yang berantakan. Kau bilang aku harus ini harus itu, namun kau tak tau di luaran aku juga mempunyai tanggung jawab dan diluaran aku juga membutuhkan kesenangan. Aku seorang remaja. Tak seharunya aku melakukan semuanya, jikapun begitu, bantu aku untuk semangat mengerjakannya.

Tegur aku dengan lembut ketika kau melakukan kesalahan. Hukum aku dengan wajar jika aku melakukan pelanggaran. Simpan kepalan tangan yang menyakitkan. Buang benda-benda yang membuat ku terluka lebam. Tahan teriakan-teriakan yang menyentak dan menyesakan. Hentikan cacian yang selalu terlontar ketika marah menghujam. Aku wanita yah! Sekali lagi aku wanita! Aku anak kecil yang berusaha berlagak dewasa, agar tak selalu kau pandang sebelah mata. Aku masih butuh peluk kasih dari mu. Aku sangat perlu sedikit perhatian di imur ku yang rentan permasalahan. Aku frustasi, aku sering terjebak dalam lamun yang menakutkan, aku selalu menangis tanpa alas an. Hidup terasa tak dapat teraba ujungnya.

Pikirku melayang tinggi, dan mempuyai Tanya dalam hati. aku ini anak mu atau pembantu mu? Aku ini darah daging atau orang asing? Apa aku tak di ingin? Atau aku memang dibutuh namun hanya untuk sekedar membuat utuh apa yang belum pernah kau sentuh. Tanya dari ku wanita yang tak pernah kau lihat senyumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here