Masih Efektifkah Prabowo Subianto Memainkan Politik Identitas di Pemilu 2019?

0
655

KabarBerita.co.id – Berpolitik memang sarat akan taktik dan strategi demi meraih pucuk kekuasaan. Apalagi untuk sekelas Prabowo Subianto, eks Prajurit TNI AD yang konon mengakhiri masa jabatannya dengan cerita yang cukup kontroversial, diberhentikan oleh Panglima TNI pasca reformasi 1998, menyisakan berbagai dugaan kasus pelanggaran HAM yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Seakan tidak ingin mengulangi beberapa kegagalan Pemilu sebelumnya, agaknya pada Pemilu 2019 ini, Prabowo mulai memainkan isu politik identitas demi meraih kursi Presiden RI, yakni dengan menyinggung sentimen Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), khususnya ke umat Islam sebagai masyarakat mayoritas di Indonesia.

Sebelumnya, strategi politik identitas seperti ini lebih dulu dipopulerkan oleh Donald Trump yang berhasil memenangkan Pemilu Amerika Serikat pada tahun 2016 lalu. Kala itu Trump mengandalkan isu SARA dengan mengangkat sentimen anti imigran, anti Islam, anti Tiongkok, dan isu – isu SARA lainnya.

Hal inilah yang kemudian dinilai oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, sebagai salah satu strategi yang kemungkinan diadopsi oleh Prabowo Subianto menjelang Pemilu 2019 mendatang. Sehingga Qodari melihat ada semacam upaya mempertentangkan beberapa kelompok masyarakat menggunakan sentimen SARA tersebut, khususnya melalui isu Anti Barat dan Tiongkok, dan isu Indonesia Bubar 2030.

“Nah apa strategi Donald Trump? Dia mempertentangkan kalangan bawah dan atas, jadi diungkap persoalan kesenjangan-kesenjangan,” ujar Qodari di Fx Sudirman, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Biasanya memang, strategi politik identitas khasnya adalah menebarkan pesimisme masyarakat hingga akhirnya membuat masyarakat menjadi takut akan kondisi negaranya sendiri.

“Jadi menurut saya agak mirip, yang disebarkan adalah pesimisme, ketakutan. Ternyata pesimisme dan ketakutan itu dibeli oleh rakyat Amerika sehingga mereka memilih Donald Trump,” ungkapnya.

“Yang penting didengar orang, makin kontroversial makin bagus. Kalau di Amerika takut sama Islam, kalau di Indonesia takut sama Barat. Jadi politik ketakutan dan pesimisme itu dimainkan untuk mengganti dengan calon yang lebih kuat,” lanjutnya.

Lantas, apakah strategi politik identitas seperti itu berhasil merebut hati dan suara masyarakat Indonesia di Pemilu 2019 mendatang? Jawabannya tentu saja kembali pada hasil Pemilu 2019 dan masyarakat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here