Sebuah Renungan, Jangan Ajak Keluargamu Masuk Neraka!

0
74

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebagai pendukung militan bapak Prabowo saya termasuk setia mengikuti kegiatan beliau dalam ajang pilpres 2019 ini, karena saya menganggap beliau pemimpin yg tepat untuk Indonesia, karena tegas dan melindungi Islam beserta semua ulamanya.

Ketika rame2 orang mempertanyakan keislaman Prabowo, disitulah saya mulai memperhatikan secara seksama bagaimana beliau melaksanakan ibadahnya.

Saya juga tidak percaya ketika ada isu bahwa Prabowo menolak untuk menjadi imam shalat saat Putra tokoh NU KH Salahuddin Wahid, Irfan Asyari Sudirman atau Ipang Wahid, pas solat, ada capres diminta jd imam. Tapi nolak & malah minta Yenny jd imam.

Capres itu Jokowi atau Prabowo?

Dari pengamatan saya mengikuti bapak Prabowo, ternyata beliau belum pernah sama sekali menjadi imam shalat, dari sinilah saya bertanya-tanya, kenapa beliau tidak mau jadi imam shalat?

Ketika saya berkesempatan shalat bersama beliau dan berada di dekatnya, saya coba menyimak pas sholat dhuhur. Saya melihat beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun dalam doa, bahkan mata beliau selalu melihat gerakan imam shalat untuk menirukannya.

Dalam beberapa kali kesempatan shalat bareng beliau, yang paling sering sholat dhuhur, kadang maghrib dan isya, untuk sholat subuh, saya belum pernah bersama dengan beliau.

Saya juga belum pernah mendengar beliau membaca Surat Al-Fatihah :

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Arrohmaanirrohiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaakana’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinasshiroothol Mustaqiim. Shirootolladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin. Aaamiin.

Saya jadi ragu, apakah bapak Prabowo ini tidak mempelajari Islam dengan serius?

Hadits Nabi berikut ini sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Hadits ini secara jelas memberikan gambaran betapa Islam sangat memandang penting persoalan memilih pemimpin. Hadits ini memperlihatkan bagaimana dalam sebuah kelompok Muslim yang sangat sedikit (kecil) pun, Nabi memerintahkan seorang Muslim agar memilih dan mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.

Kesepakatan para ulama salaf dalam memahami ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa ayat-ayat tentang larangan memilih pemimpin non Muslim bagi kaum Muslimin telah menunjukkan derajat mutawattir (disepakati), sehingga tidak muncul perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan mereka.

Saya pun berkonsultasi dengan Habib panutanku, beliau menegaskan kembali ayat tersebut di atas. Lalu saya menceritakan pilihan pemimpin yang akan saya pilih yaitu Prabowo, dan menceritakan apa yang saya lihat tentang keislaman beliau, lalu saya bertanya, apakah saya berdosa bila tetap memilih beliau sebagai pemimpin negara ini

Habib yang sangat saya hormati itu menjawab : “Kalau mau masuk neraka ya masuk sana sendiri, jangan ajak keluargamu!”

Saya hanya bisa terhenyak kaget!

Sebagai imam keluarga haruskah aku mengajak keluargaku masuk neraka karena memilih pemimpin yang tidak sesuai ajaran Islam?

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Abu Bakar Salim

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here