Benarkah Warga Surabaya Rasis? Atau Mahasiswa Papua Telah Terprovokasi OPM?

0
36

Diadaptasi Dari Tulisan : Emmanuel Kogoya (Mahasiswa Indonesia asal Papua, Aktivis)

KabarBerita.co.id – Saya melihat dan berpikir, apa yang sudah adik – adik saya, mahasiswa Papua buat di Surabaya dan beberapa daerah lainnya saat ini sudah kelewatan. Aksi menolak tindakan rasisme tentunya sah – sah saja, karena itu menyangkut masalah kemanusiaan dan HAM. Namun kenapa sekarang ujung – ujungnya wacana rasisme tersebut malah bergeser ke isu meminta kemerdekaan Papua?

Sampai – sampai, Papa Lukas Enembe (Gubernur Papua yang kasi uang beasiswa ke adik – adik) dan Mama Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim, yang kasi mahasiswa Papua tinggal dan belajar di Jatim), adik – adik tolak untuk bertemu?

Hebat betul kalian ya, siapa yang mengajari kalian seperti itu? Menurut saya, ini sudah tidak beres. Sebagai orang yang pernah dikasih biaya Pemda Papua untuk sekolah di Jawa, terpaksa saya harus tulis apa saya punya pandangan terhadap ramai kasus ini. Karena saya tahu, warga di Jawa tidak rasis, mahasiswa Papua juga perlu berpikir jernih, kalau apa yang kalian bikin itu tidak benar. Saya tulis ini demi untuk selamatkan Papua, demi menyelamatkan adik – adik yang sekolah di Jawa, untuk selamatkan Indonesia.

Saya sebagai orang Papua, sangat tegas menolak rasisme. Sampai hari ini, rasisme bukan saja menjadi persoalan di Indonesia, bahkan di negara maju sekalipun seperti di Amerika dan Eropa, perjuangan menolak rasisme sudah ada sejak dulu. Apalagi sampai hari ini, masih saja ada segelintir orang yang berlaku dan berucap rasis.

Begitupun di Indonesia, masih ada juga orang yang berpandangan rasis ke kita, orang Papua. Tapi, apakah semua orang Indonesia kita generalisasikan begitu? Tentu saja tidak! Saya puluhan tahun tinggal di Jawa, Sulawesi, justru diperlakukan sangat ramah.

Kalau memang, yang adik – adik mahasiswa tuntut ke pemerintah adalah perlakuan rasisme di Surabaya? Itu sudah dilakukan dan dipenuhi adik! Oknum TNI yang berucap rasis pada saat itu, sudah dihukum skors dab juga telah diseret ke Pengadilan Militer. Otomatis, karir oknum TNI itu juga hancur akibat perbuatan mereka sendiri. Bahkan, Danramil Brawijaya pun sudah dicopot dari jabatannya.

BACA : Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, 5 Oknum TNI Diskors

Selain itu, Tri Susanti, oknum yang memimpin aksi rasisme didepan asrama kalian pun sudah dipecat di organisasinya (FKPPI) dan sekarang sudah jadi menjadi tersangka dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

BACA : Tri Susanti Dipecat dari FKPPI dan Jadi Tersangka Rasisme

Lantas, apalagi yang mau kalian tuntut adik – adik mahasiswa? Tuntut agar Papua dibangun agar sejahtera? Bukankah Presiden Joko Widodo sudah turun tangan sampai beri komentar, akan jaga kehormatan rakyat Papua dan dijamin kesejahteraannya?

Cobalah kalian pulang ke kampung kita di Papua, tengoklah! Presiden Jokowi sudah membangun jalan, pasar, sekolah, dan rumah – rumah di Papua. Ini pertama kalinya Papua dibangun setelah puluhan tahun tak disentuh oleh pemerintah pusat. Papa mama kalian di kampung sudah senang, itu sebabnya, pada Pemilu kemarin Jokowi menang besar di Papua hampir 90 persen.

Oleh karena itulah, saya minta kepada adik – adik Papua untuk introspeksi, saya minta kalian berkaca. Kenapa asrama kalian didatangi warga Surabaya? Kalian disana apakah sering memasang bendera Merah Putih di Asrama, lambang negara Indonesia, tanah air yang kalian tempati, mencari ilmu, mencari makan?

BACA : Penghuni Asrama Mahasiswa Papua Ralat Keterangan Insiden Tiang Bendera

Bahkan, dari info yang saya dapatkan, bahwa ada dari kalian yang mematahkan dan menurunkan bendera merah putih yang dipasang warga di depan asrama kalian. Apalagi, tindakan itu kalian lakukan tepat di hari kemerdekaan Indonesia yang semua rumah wajib pasang bendera, di Kota Surabaya juga, kota pahlawan.

Lalu, bagaimana torang disana tra baku emosi? Kalian juga jangan bikin emosi orang, jangan kalian buat provokasi. Siapa yang mengajari kalian?

BACA : Tas Berlogo Bintang Kejora Ditemukan di Asrama Mahasiswa

Waktu lalu saya juga sempat berkunjung ke Jogja, saya melihat ada adik – adik mahasiswa Papua yg pakai baju korsa (pakaian seragam mahasiswa jurusan) bagian lambang bendera merah putih kalian copot. Kalian tak mau pakai atribut merah putih. Kenapa sekarang kalian begitu adik? Siapa yang ajari?

Saya semakin sedih, melihat berita beberapa hari yang lalu, Gubernur Papua yang beri kalian beasiswa untuk sekolah di Jawa dan Gubernur Khofifah yg punya wilayah di Jatim mau datang kesana kalian tolak. Sampai – sampai ibu Khofifah kalian lempar sama barang yang berasap.

BACA : Gubernur Papua, Lukas Enembe dan Gubernur Jatim, Khofifah Ditolak Mahasiswa Papua

Jadi pertanyannya, sebenarnya kalian ingin situasi damai atau memang kalian mau situasi ribut terus adik? Siapa yang ajari itu? Sebelum kemarin, kalian tolak juga semua pejabat bahkan yang dulu saat mahasiswa juga tempati asrama kalian. Kalian sungguh keras kepala, semua sudah minta maaf, semua sudah diproses hukum, tapi kenapa sekarang kalian terus ingin masalah ini berlanjut?

Lantas, siapa yang kalian ingin temui di asrama? Benny Wenda kah? Tokoh OPM itu, buronan kriminal yang kemarin disusupkan jadi delegasi Vanuatu di PBB yang teriak Papua harus merdeka atas nama HAM? Padahal dia orang juga terus bikin kekerasan di Papua.

Sudah kasi apa mereka yang ajari kalian bikin ribut dan musuhi orang Indonesia? Kasih kalian beasiswa kah? Atau hanya kasih janji kosong kalau Papua merdeka kalian sejahtera?

BACA : Jejak Benny Wenda Kabur Dari Penjara, Diburu Interpol, Hidup di Inggris

Bukan adik, jika Papua merdeka, kalian akan tambah susah, mereka LSM, aktivis yg sekarang sok bela adik buat bikin Papua merdeka itu yang akan kaya, kalian tidak! Saya banyak lihat orang Timor Timur yang menangis karena merdeka, mereka justru tambah susah, mereka punya pemimpin lebih kejam.

Saya pikir pemerintah harus lihat masalah ini bukan soal rasisme atau kesejahteraan. Tapi masalah ini juga karena kaderisasi gerakan separatis OPM di setiap asrama Papua di seluruh daerah di Indonesia. Saya lihat sendiri ini memang terjadi, setiap mahasiswa Papua baru yang benar – benar pintar, yang benar-benar ingin cari ilmu di Jawa, sampai di asrama berubah sudah. Mereka jadi anti Indonesia, mereka malah menuntut kemerdekaan.

Itu karena sampai di asrama mereka hanya bergaul dengan senior – senior yang sudah menjadi kader OPM. Dia juga punya teman – teman aktivis LSM yang ngaku – ngaku ingin bantu Papua tapi dengan cara Papua harus merdeka.

Ini yang salah! Tak boleh lagi ada asrama khusus kedaerahan. Tidak boleh lagi ada asrama khusus Papua saja, Sulawesi kah, Kalimantan kah. Sudah benar asrama yang dibikin itu nanti asrama Nusantara.

BACA : Gubernur Khofifah Akan Bangun Asrama Nusantara

Asrama Papua tempat kaderisasi OPM yang buat mahasiswa papua menjadi eksklusif dan cenderung membenci Indonesia (daerah sekitar) jangan sok menutup mata kalian Tirto.id! kita mahasiswa tahu memang benar mereka cenderung eksklusif dan harus dirubah.

BACA : Kapolri Tito ke Mahasiswa Asal Papua, Jangan Eksklusif, Apa Benar?

Asrama nusantara ini justru bisa bikin mahasiswa baru Papua sadar, semua orang Indonesia tidak rasis, semua orang Indonesia cinta Papua, ini juga bisa bikin mahasiswa Papua belajar jadi orang baik, menghargai dan bisa bikin orang Papua berhasil gampang cari kerja.

Pemerintah harus stop izin asrama daerah, asrama Papua apalagi, karena disitu kaderisasi OPM bisa terjadi. Musuh NKRI bukan saja gerakan radikalisme, HTI, Khilafah, musuh NKRI juga Gerakan Separatis, ini harus dilawan agar semuanya selamat.

#IlovePapua
#PapuaAdalahIndonesia