Bahaya Penyebaran Hoaks dan Ancamannya Pada Kedamaian di NKRI

0
45

KabarBerita.co.id – Hoaks atau berita bohong tak ubahnya seperti narkoba, efeknya sangat masif dan berbahaya sekali bagi masyarakat banyak. Selain menjatuhkan karakter seseorang, kelompok masyarakat atau institusi tertentu, penyebaran berita hoaks juga bisa menimbulkan adu domba dan teror pada kehidupan bermasyarakat. Terlebih lagi jika bumbu provokasi yang digunakan menyangkut isu agama, ras dan kesukuan, yang tentunya sangat sensitif dan rentan menimbulkan konflik horizontal.

Penggunaan konten hoaks pada dunia politik khususnya memang bukan barang baru. Di era pemerintah NAZI misalnya, ketakutan dibangun dengan menggunakan sentimen eksistensi ras Arya digunakan Hilter untuk memberikan pembenaran baginya untuk melakukan pembantaian massal pada ras Yahudi di Jerman. Ini adalah salah satu contoh, bagaimana sentimen ras sangat efektif untuk mencuci otak masyarakat banyak sehingga membenarkan perbuatan genosida.

Lantas yang terjadi hari ini, “barang usang” seperti itu kerap digunakan lagi. Sentimen anti ras, agama dan kelompok tertentu dijadikan alat untuk mengadu domba masyarakat, selain itu juga dijadikan sentimen itu juga kerap digunakan untuk menjatuhkan lawan politik dan kepemimpinan yang sedang bekerja saat ini.

Beginilah hoaks bekerja membutakan para korbannya, maka tidaklah berlebihan jika hoaks bisa diibaratkan layaknya narkoba yang bisa merusak sekaligus membunuh. Itulah kenapa, pemerintah saat ini sangat besar perhatiannya untuk memerangi hoaks, karena ancamannya pada keutuhan dan kedamaian di NKRI sangatlah besar.

Cara Menghindari Hoaks

Demo Anti Hoaks

Hoaks bisa dihindari jika kita mau bersikap kritis dalam mencerna setiap informasi yang kita dapatkan. Ada beberapa hal yang mesti kita pahami, bahwa dalam konteks pemberitaan, ada yang namanya kode etik jurnalistik dan dewan pers yang menaungi sebuah konten pemberitaan. Contohnya misalnya media BeritaLima yang memfitnah salah satu menteri ini, tidak jelas darimana sumber beritanya, medianya juga diduga meniru nama salah satu media online nasional untuk mengelabui netizen.

Sebuah berita harus bisa memenuhi standar jurnalistik yang sesuai dengan kode etik, misalnya mengedepankan objektifitas dan kredibilitas. Itulah kenapa, sebuah media yang berada dibawah naungan Dewan Pers wajib mencantumkan nama – nama pengurus redaksi dan alamat atau kontak redaksi sebagai bentuk pertanggung jawaban konten pemberitaan.

Oleh karena itulah, sebelum membaca konten berita, cobalah periksa asal usul informasi tersebut, kredibelkah media pemberitaannya? Siapakah penulis dan editor beritanya? Siapakah narasumbernya dan kredibelkah?

Kemudian, isi pemberitaan harus sesuai dengan judul dan dokumentasi didalam pemberitaan. Coba periksa dengan teliti, apakah foto dan video yang digunakan sebagai dokumentasi sesuai dengan isi pemberitaan? Atau jangan – jangan itu foto atau video yang berbeda namun dibuat seolah – olah terjadi di tempat yang diinginkan si pembuat berita. Misalnya, foto atau video kecelakaan pesawat di India diberitakan terjadi di Indonesia. Ini tentu saja hoaks dan menyesatkan. Anda bisa kroscek melalui google image untuk poin yang satu ini.

Kemudian cari perbandingan berita, jangan hanya terpaku pada satu sumber saja. Ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk meneliti kebenaran sebuah berita. Jika berita itu tidak diberitakan di media lain, bisa jadi itu adalah berita karangan semata yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Jadi, mulai sekarang, marilah cerdas dalam memfilter setiap informasi, galilah pengetahuan sebanyak – banyak tentang bahaya hoaks. (Red)