Pelindo 1, Siap Bangkit Kembali Melalui Transformasi SDM Berbasis Digital

0
23

KabarBerita.co.id (Jakarta) – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 1 belakangan ini memang sempat mengalami masa – masa yang cukup memprihatinkan pada kurun waktu 2004 – 2014. Kinerja PT Pelindo 1 selama kurun waktu 10 tahun tersebut terbilang kurang kondusif hingga dianggap cukup merugikan perusahaan. Selama periode ini, roda perusahaan yang seharusnya berputar kedepan malah justru bergerak ke arah sebaliknya.

Kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini kian menghadapi rintangan ketika dua dari lima orang direksi diberhentikan pada 2007. Pemberhentian kedua direksi ini tidak langsung diikuti dengan pergantian Direksi baru. Kekosongan posisi ini membuat tiga orang direksi yang ada harus merangkap pekerjaan untuk lima orang.

Pengangkatan dua direksi baru untuk mengisi kekosongan jabatan baru dilakukan pada 2009. Pada 2011 kembali terjadi perubahan dalam susunan direksi PT Pelindo 1. Hanya selama periode ini pun situasi kerja yang kurang kondusif masih terasa.

Ada beberapa masalah yang membuat kondisi PT Pelindo 1 menjadi tidak kondusif selama kurun waktu 2004-2014 tersrbut. Salah satunya yaitu tidak adanya kejelasan mengenai penilaian karyawan atau key performance indicator (KPI) di berbagai level.

Situasi inilah yang kemudian membuat PT Pelindo 1 kehilangan kesempatan untuk berkembang. Pengelolaan SDM yang ‘apa adanya’ ini mendorong terjadinya praktik-praktik kotor yang dilakukan oleh beberapa oknum. Pendapatan perseroan yang tidak tercatat ke dalam pembukuan akhirnya masuk ke kantong pribadi oknum pegawai.

Target, kinerja, dan kebutuhan karyawan yang kurang diperhatikan kala itu juga berimbas pada hilangnya potensi pendapatan yang cukup signifikan. Diperkirakan, ada sekitar Rp 200 miliar potensi pendapatan yang hilang karena karyawan kurang dipacu oleh target dan insentif. Kendala pun tak hanya ditemui di kantor pusat, tetapi juga kantor-kantor cabang. Ada cu kup banyak kantor cabang yang kegiatannya tidak terkontrol dengan baik.

Sistem pengajuan cuti karyawan pun menjadi masalah yang cukup pelik. Ada suatu ‘budaya’ saat sebagian pe gawai yang ingin mengajukan cuti tidak diharuskan mengisi form pengajuan cuti. Para pegawai tersebut bisa langsung tidak masuk kerja dengan alasan cuti tanpa melapor ke perusahaan.

Permohonan cuti pegawai yang mendapat persetujuan pun ternyata tidak sampai ke kantor pusat. Sehingga mengakibatkan riwayat cuti karyawan tidak tercatat dan karyawan dianggap belum pernah cuti. Kondisi inilah yang membuat sebagian karyawan ‘rajin’ mengajukan cuti tanpa pernah mendapatkan teguran dari perusahaan. Akibatnya, kinerja karyawan maupun perusahaan pun akhirnya menjadi rendah.

Sekelumit masalah akibat sumber daya manusia (SDM) yang tidak terkelola dengan baik kini hanya menjadi masa lalu PT Pelindo 1. Bertepatan dengan pergantian direksi pada 2014, PT Pelindo 1 mulai melakukan transformasi SDM berbasis digital. Transformasi yang dipenetrasi hingga ke kantor – kantor cabang ini berhasil membuat sejumlah perubahan besar yang positif bagi PT Pelindo 1.

Mudah dipahami sepak terjang dan keberhasilan PT Pelindo 1 dalam mewujudkan transformasi SDM berbasis digital ini tertuang dalam Transformasi SDM Berbasis Digital. Buku yang ditulis oleh Direktur SDM PT Pelindo 1 M Hamied Wijaya dan Eko Edhi Caroko ini secara gamblang memaparkan bagaimana pola dan strategi dalam melakukan transformasi SDM berbasis digital demi meningkatkan kinerja dan pencapaian perusahaan maupun karyawan dari PT Pelindo 1.

Ada berbagai kunci penting dalam proses transformasi SDM berbasis digital yang yang dapat diperlajari dari buku ini. Tiap kunci – kunci penting ini dipaparkan secara lugas dan mudah dipahami. Penerapan transformasi SDM berbasis digital juga dibahas melalui beberapa sudut pandang yang menarik. Pembahasan ini kemudian terbagi kedalam bab dan subbab yang terstruktur dengan baik sehingga dapat dengan mudah memberi gambaran yang jelas bagi pembaca.

Lebih lanjut, terungkap pula manfaat nyata dari transformasi berbasis digital untuk divisi SDM tersebut. Karyawan yang dahulu terjebak pada hal – hal kontraproduktif akibat adanya pengotak – kotakan hingga politik kantor, kini menjadi lebih disiplin.

Tak sedikit karyawan yang memanfaatkan waktu luang mereka secara produktif untuk mengisi rencana kerja bulanan sebagai bagian dari manajemen kinerja elektronik (MKE). Sistem MKE yang diterapkan PT Pelindo 1 ini akhirnya mampu mengubah kebia saan dan budaya karyawan menjadi lebih positif dan disiplin.

Sistem pengajuan cuti yang didigitalisasi juga mampu merekam riwayat cuti karyawan secara akurat. Karyawan yang belum mengambil hak cutinya pun akan terpantau oleh sistem yang akan mengingatkan dan meminta karyawan tersebut untuk segera mengajukan hak cutinya. Penilaian kinerja karyawan pun akan menjadi jauh lebih objektif.

Keberhasilan transformasi SDM berbasis digital yang dilakukan PT Pelindo 1 ini juga berkontribusi positif pada kinerja keuangan perusahaan. Pada 2018 PT Pelindo mampu membu kukan pendapatan usaha sebesar Rp 3,114 triliun, laba bersih Rp 912 miliar, dan total aset senilai Rp 14,921 triliun.

Pencapaian ini kemudian meningkat tinggi dibandingkan pencapaian pada 2017 yang mencatatkan perolehan pendaparan sebesar Rp 2,75 triliun, laba bersih Rp 803 miliar, dan total aset senilai Rp 8,51 triliun. Sepak terjang PT Pelindo 1 yang tertuang dalam buku ini menjadi bukti bahwa transformasi merupakan pekerjaan yang berat dan harus berpacu dengan waktu.

Namun, di saat yang sama, transformasi merupakan hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan melalui kedisiplinan dan integritas. Selain sistem manajemen kinerja yang di tata ulang, kami juga membangunnya secara digital supaya tidak ada lagi kertas-kertas administrasi, jelas Direktur SDM PT Pelindo 1 M Hamied Wijaya (halaman 9).

Menariknya, gaya berbahasa yang ringan namun padat juga membuat buku Transformasi SDM Berbasis Digital ini menjadi bacaan yang menyenangkan sekaligus mengedukasi. Buku ini juga dilengkapi dengan infografis, grafik, foto, hingga pointer menarik yang dapat lebih mempermudah pembaca dalam memahami informasi dengan lebih ringkas.

Tata letak buku yang dinamis dan penuh warna juga membuat buku ini tidak terasa membosankan untuk dibaca. Yang tak kalah penting, upaya dan pencapaian PT Pelindo 1 yang dijabarkan dalam buku ini bersifat cukup universal.

Buku Transformasi SDM Berbasis Digital juga dilengkapi dengan highlight yang menonjolkan kutipankutipan penting. Highlight ini disertai dengan warna-warna cerah sehingga mudah ditemukan dan diingat pemb aca. Karena itulah buku ini juga dapat dijadikan referensi bagi perusa haan-perusahaan lain yang mungkin menghadapi masalah serupa dan ingin melakukan transformasi SDM berbasis digital. (Red)