Counter Opini terhadap Penolakan DOB Provinsi Kepulauan Papua Utara (PKPU)

Biak Numfor, kabarberita.co.id – Membaca tulisan seorang bernama Ottis Simopiaref dengan judul DOB MEMBUNUH OAP yang saat ini si penulis Ottis masih tinggal di negara Belanda, dia meninggalkan Biak Papua sejak tahun

1983 dengan meninggalkan anak istri dan menikah lagi dengan pacarnya dari Belanda yang seorang pekerja di LSM garis keras. Ottis sempat kembali ke Biak karena istrinya yang di Biak meninggal dunia. Dia tidal bekerja di Belanda hanya mengandalkan kehidupan dari istri yang di Belanda. Sampai saat ini tidak ada yang bisa diandalkan dan menjadi contoh sebagai orang yang mempunyai kontribusi bagi Indonesia khususnya Biak Papua. Tulisan tersebut sangat provikatif dan ditentang oleh Aliansi Kepemudaan, Dewan gereja Pam GKI Klassis wilayah Biak Supiory dan tokoh adat di Biak serta LMA Seireri.

Counter Opini terhadap tulisan Ottis dengan judul DOB membunuh OAP seolah² DOB sebagai mesin pembunuh berupa senjata, coba dibuktikan?? Siapa juga yg mau membunuh, dan utk apa membunuh…
Sebagian besar OAP tdk menolak DOB, tetapi sebagian kecil mereka seperti Ottis adalah bagian kecil dari orang² yg terhasut dan dipengaruhi oleh Pejabat elit Jayapura yg berkolaborasi dg Tokoh Elit Jakarta dan segelintir org di Luar Negeri yang melintir dan memprovokasi situasi yang Kondusif di Papua yang tidak punya hati & tdk pernah tahu, apalagi tahu sebenarnya karena anda & golongan kecil anda berada di luar Papua alias di Negeri orang yg bukan tanah anda.

Saat ini OAP sangat berperan disegala sektor kehidupan, dipemerintahan terbukti dari sebagian besar OAP menjadi Gub/Bupati/Walikota dn Ketua DPRD serta jabatan setingkat Kadis. Mereka semua lah yg mengatur program-program unggulan dan menggunakan anggaran utk meningkatkan pembangunan di segala sektor kehidupan. Kalaupun tdk jalan itu juga karena & tergantung siapa yg memimpin.

Anggapan bahwa DOB Pemekaran Provinsi merupakan ancaman mematikan thd eksistensi OAP itu adalah HOAX, mengapa? Urusan DOB Provinsi seolah-olah menjadi kambing hitam utk dicari² kesalahan dan sbg ancaman OAP. Tapi Elit Jayapura dn Tokoh dibalik itu yg ada di Jkt merasa terancam, karena apa? Selama ini merekalah yg telah menikmati dan kenyang dari kenikmatan dana Otsus yg dikucurkan utk Provinsi Papua (Provinsi saat ini) dg luas wilayah yg akan dimekarkan dari rencana DOB Provinsi Papua Tengah, Provinsi Pegunungan Tengah, Provinsi Selatan dan selanjutnya nanti Provinsi Kepulauan Papua Utara (Seireri) dan jatah 1,5% bagi hasil Freeport. Coba dibayangkan bila itu dimekarkan menjadi 3 dn 4 DOP Provinsi , bgm jatah meraka menjadi berkurang secara signifikan utk dana Otsus utk Provinsi Papua.

Lihat Provinsi yang sdh terpisah dari Provinsi Papua/Irian Jaya sebelumnya yakni Provinsi Papua Barat, contoh Kota Sorong dan Kota Manokwari (sbg Ibu Kota Provinsi Papua Barat) sdh semakin maju pembangunannya menjadi kota metropolis spt Jayapura (Ibukota Provinsi Papua).
Apakah contoh2 ini tidak ada keinginan dari DOB Provinsi Baru tsb menjadi Maju Pembangunannya, jgn sampai ketinggalan dan tidak ada alasan DOB Provinsi Baru tsb menjadi ketinggalan dn ancaman. Malah yg terancam adalah Elit Jayapura dan Generasi atau Kadernya lah yg masih berkeinginan dapat menikmati hasil² dari Otsus dan bagi hasil Freeport. Bilamana itu sudah terbentuk DOB Provinsi menjadi 3 dan 4 Provinsi Baru maka Provinsi Papua jatah dari dana Dana Otsus yg besar menjadi hak Provinsi Baru Papua Tengah yg menjadi wilayah penghasil sumber SDA berupa Emas..

Nasib OAP bukan seperti Aborigin apalagi Suku Indian di USA, Orang Australia didatangkan dari Eropa terutama dipindahkannya tahanan kriminal Inggris di tanah Aborigin dan mereka koloni Inggris tsb sampai saat ini yg menguasai segala Sektor kehidupan baik di pemerintahan dan Bisnis termasuk tanah Aborigin sedangkan di USA negeri Suku Indian dijajah & dikuasai oleh Org² Eropa, pertama dg kedatangan org Spanyol di Amerika Utara (Florida) dan bergeser oleh Pemberontak² dari Inggris yg berseberangan dg Pemerintah Inggris serta dari orang Irlandia , saat ini tanah Indian di kuasai oleh orang Eropa yg sekarang bernama USA, sama nasibnya spt Australia, Orang Asli Indian tidak menguasai di Pemerintahan apalagi sektor yg lainnya, malah diisolir ke wilayah lain. Nah sekarang yang tersisih OAP apanya?.

Apabila diartikan bahwa Papua seperti dijajah ? Tidak beralasan karena Indonesia adalah satu wilayah dengan bentangan Pulau² yg saling menyambung dari Sabang sampai Merauke. Yang sama² dijajah Belanda selama 300 tahun, dan Jepang selama 2,5 Tahun. Datangnya Injil di Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Maluku NTT Papua bersamaan oleh Belanda, termasuk agama² yg lainnya. Apanya yg beda?? Tdk ada tooh.
Tidak ada wilayahnya seperti dan dianggap tersisihkan, tdk beralasan karena Seperti Org² dari suku Dayak dan Betawi juga sdh sukses dg segala Bidang baik didaerahnya dan didaerah lainnya utk membangun bagi kemajuan wilayah NKRI yg tidak membedakan arti dan kesukuan, apa yg sudah terbangun bukan utk mengikis arti Bhinneka Tunggal Ika , Berbeda-beda tetapi tetap satu, karena dg bersatu Rakyat Indonesia semakin kuat dan maju.

Pemekaran Provinsi dan Pemekaran Kabupaten tdk menghancurkan malahan memuluskan bagi kemajuan daerahnya karena itupun juga tergantung dari Pemimpin² yg memimpin wilayahnya masing² yg notabene adalah Pemimpin dari OAP itu sendiri.

Bila ada dan bertambahnya Kodam/Polda/Kodim/Polres/militer yg lainnya juga tidak beralasan karena program anggota TNI/Polri berasal dari 70% OAP dan 30% NON OAP yg sudah sejak lahir dan hidup lama di Tanah Papua. Itu pun Quota OAP adalah yg terbesar dari Quota pemasukan/Penerimaan Anggota TNI/Polri secara Nasional, jadi apa yg blm terjawab?? Anda saudara *Ottis* hanya pintar bicara dari negeri orang dan tidak pintar utk memajukan daerah anda.

Ancaman HAM bukan datang dari TNI tetapi Gerakan Pengacau yg masih berkeliaran dg membunuh warga Asli OAP yg tdk bersalah, mengancam kehidupan ekonomi,politik dan keamanan itu sendiri serta menghancurkan dan membakar bangunan sosial dan pemukiman yg dibangun dari uang rakyat Papua sendiri.

Senggol menyenggol apabila ada Mobil TNI jangan melihat seperti contoh di Jakarta, Makasar,Medan dan Kota² besar lainnya..ini di Papua hampir jarang karena sekali menyenggol warga Asli, malah bisa² TNI yg dikenai denda dari yg tersenggol karena blm mengikuti aturan hukum murni di KUHP.

Program² unggulan Pemda setempat sdh terealisasi dg meningkatkan jiwa wirausaha dg memberikan modal kpd OAP , pelayanan pendidikan sudah diberikan gratis, pelayanan kesehatan sdh jelas diberikan dg tdk membeda² kan hak utk terlayani dg jaminan kesehatan dari Pemerintah. Budaya asli tergantung dari suku² yg bersangkutan, kita harus realistis menghadapi kemajuan zaman bukan menuduh apalagi mencari kambing hitam.
Orang Button tidak menguras Laut tetapi orang Button dan Orang Jawa mewariskan budaya bercocok tanam di pegunungan, dihutan² menjadi tanah produktif, kenapa Anda *Ottis* harus iri dg orang Button dan Jawa ??Seharusnya anda sendiri belajar dari mereka utk maju utk anak² dn Cucu, bukan mencela tanpa bukti² , krn anda tdk bisa membuktikan kpd anak cucu perbuatan dan anda lakukan positif dn memajukan daerah anda.

Waktu yg akan menjawab bahwa orang-orang yg tidak bisa membangun dirinya utk membangun daerahnya seperti *Ottis* tidak patut dicontoh bagi anak cucu dari OAP, malah anda dn sebagian org² yg terhasut dn mudah diadu domba hanya utk membela dan memperjuangkan hal yg semu dan Tuhan pasti akan tahu bahwa apapun usaha untuk menghalangi berbuat baik bagi negeri ini, Tuhan tdk akan kasih apa² malahan tertekan dg jiwa kerdil dg hidup di negeri orang.

Apapun cerita Anda *Ottis* sulit utk kita percaya karena anda sendiri tidak bisa membuktikan apapun, sedangkan anda dinegeri orang apakah menjadi kaya raya seperti Dr Terawan yg memiliki keahlian didunia Kedokteran dan Prof BJ Habibie sebagai org pintar di dunia Penerbangan serta org² Indonesia yg dibayar karena ilmu dan keahliannya bermanfaat bagi dunia, bukan seperti anda *Ottis* yg hanya mempunyai keahlian tipu2 dunia dg ocehan sampah yg semestinya negara Eropa yg disinggahi tdk perlu menanggapi org seperti *Ottis* malah merugikan negara Eropa yg disinggahi tsb.

Bagi warga Papua dan Rakyat Indonesia secara umum jangan terprovokasi dan jangan mau diajak seruan utk ikut *Demo menolak DOB pemekaran Provinsi* Bisa² kalian pemuda dan warga Papua berdemo, malah *Ottis dan kawan²nya di negeri orang santai² menikmati udara segar tanpa lelah dan bekerja*

Biarkan saudara *Ottis* sadar sendiri karena dia dn bagian kecil di negeri orang sbg provokator yg blm pernah bisa menjadi contoh utk membangun daerah nya sendiri .

Salam perjuangan membangun negeri dan tanah Papua dalam bingkai NKRI.

( Shanty Rd )

Pos terkait