Konferensi Perempuan Internasional untuk Pembebasan Al-Agsa dan Palestina

Jakarta, kabarberita.co.id – Sebagai wujud kepedulian terhadap warga Palestina, khususnya kaum perempuan dan anak-anak Palestina yang paling banyak menjadi korban, Lembaga Kemanusiaan yang konsen pada isu Palestina, Agsa Working Group (AWG), akan menggelar Konferensi Perempuan Internasional untuk Pembebasan Al-Agsa dan Palestina sebagai salah satu wujud dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina dan kaum Muslimin dalam membebaskan Al-Agsa dan kemerdekaannya. Konferensi ini mengambil tema ”Bergerak Berjamaah Membela Perempuan dan Anak-anak Palestina”.

Konferesi yang akan dilangsungkan ini pada Kamis, 13 Syaban 1443/ 17 Maret 2022 di Hotel Sofyan Cut Meutia, Cikini, Jakarta Pusat, akan menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, juga mengundang puluhan lembaga kemanusiaan yang mendukung perjuangan Palestina.

Adapun para pembicara antara lain KH. Yakhsyallah Mansur (pembina AWG), Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri RI), H.E. Zuhair Al-Shun (Duta Besar Palestina untuk Indonesia), Abdul Muta’ ali (Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia) Khadijah Peggy Melati Sukma (Da’iyah, Aktivis Kemanusiaan, Penulis), Siti Aminah (Aktivis Agsa Working Group), Samr Subaih (mantan tahanan perempuan Palestina), Dr. Haifa Abdur Rauf Redwan (Pengajar di Darul Our’an wa Sunnah Gaza, Palestina) Zainat Ali Uwaydah (Murabithah), dan Hanady Halawani (Murabithah).

“Tujuan dari konferensi ini adalah membangkitkan kesadaran kaum Perempuan terhadap pentingnya peran mereka dalam perjuangan pembebasan Al-Agsa dan Palestina, menggalang persatuan umat, baik dalam skala nasional maupun internasional, sekaligus menyuarakan pemenuhan hak dan pembebasan tahanan perempuan dan anak-anak Palestina, yang masih berada dalam penjara-penjara Zionis Israel,” ujar Yakhsyallah Mansur, Selasa (16/3/2022) di Jakarta.

Perempuan dan anak-anak menjadi pihak paling lemah dan banyak menjadi korban dalam krisis Palestina. Sudah lebih dari 74 tahun Zionis Israel melakukan kezaliman terhadap rakyat Palestina, Sebagian diantara target utamanya adalah perempuan dan anak-anak.

Meski begitu, peran para perempuan Palestina memberikan andil besar dalam upaya mempertahankan Al-Aqsa. Para Murabitah (penjaga perempuan) dengan gigih ikut menjaga Al-Aqsa di garda terdepan. Tidak sedikit di antara mereka yang berulang kali ditangkap oleh tentara Zionis Israel. Salah satunya adalah Hanady Halawany yang sudah 25 kali keluar masuk penjara Israel.

Sebelumnya, organisasi pembela hak tahanan Palestina yang memantau kondisi warga Palestina di penjara-penjara Israel, Palestinian Prisoners Society (PPS), mengungkapkan 40 tahanan perempuan mengalami kekerasan, kondisi sulit, dan investigasi brutal di penjara Israel. Mereka mengalami penyiksaan psikologis dan perampasan kebutuhan dasar.

Sementara itu, banyak aktivis internasional yang terjun langsung untuk membantu memperjuangkan hak-hak warga Palestina. Rachel Corrie adalah salah satu contoh dari sekian banyak aktifis kemanusiaan dan perdamaian asal Amerika Serikat yang gigih membela Palestina hingga harus meregang nyawa di bawah buldoser Zionis Israel pada Maret 2003 silam. Corrie dikenal karena kecintaannya pada perdamaian dan membela hakhak Palestina.

Perjuangan mereka dalam mempertahankan Al-Aqsa patut diapresiasi dan terus didukung bersama. Upaya-upaya dukungan kepada para Murabithah harus terus digaungkan hingga kaum Muslimin mendapat kemenangan dan Al-Agsa bebas dari kezaliman dan penjajahan. (red)

Pos terkait