Peran TNI-AL Dalam Pembakuan Nama Fitur Bawah Laut Di IHO/IOC-UNESCO

Paris, kabarberita.co.id -Pengetahuan yang rinci tentang bentuk dasar laut sangat penting bagi keselamatan navigasi dan digunakan untuk banyak aplikasi lain serta bagi ilmu pengetahuan. Peta laut sebagai sarana visualisasi bentuk rinci dasar laut memainkan peran penting dalam melestarikan dan memanfaatkan laut dan sumber dayanya untuk pembangunan berkelanjutan khususnya untuk kepentingan navigasi selama berabad-abad. Namun, sebagian besar perairan NKRI masih belum dijelajahi, diamati dan dipetakan. Hanya sebagian kecil dari dasar laut yang telah dipetakan secara sistematis dengan survei hidrografi yang dilaksanakan sejak era kolonial Belanda hingga saat ini.

IHO mengidentifikasikan fitur dasar laut tersebut ke dalam 42 kategori istilah umum (generic term), sesuai dengan Publikasi IHO B-6 Standardization of Undersea Feature Names, seperti: Alur Pelayaran (Sea Channel), Kedangkalan (Shoal), Gunung Bawah Laut (Seamount), Lembah (Valley), Puncak Tinggian (Peak), Bukit (Hill), dll dengan spesifikasi atau kriteria khusus setiap fitur tersebut untuk dapat ditentukan ke dalam 42 kategori tersebut. Tentunya, penentuan tersebut sangat tergantung kepada kelengkapan data hidrografi yang ada. Dalam hal ini, semakin lengkap dan akurat data hidrografi yang tersedia akan semakin jelas bentuk fitur yang akan di tentukan kategorinya.

TNI-Angkatan Laut dalam hal ini Pusat Hidro-oseanografi TNI AL (Pushidrosal), mengirimkan delegasinya untuk mengikuti pertemuan Sub-Committee on Undersea Feature Names) yang ke-35 di UNESCO, Paris, yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 18 Maret 2022.

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Kolonel Laut (P) Dr. Oke Dwiyana, Kepala Dinas Pemetaan Pushidros TNI AL menyampaikan pentingnya data penamaan fitur bawah laut ini sebagai bentuk dasar laut tersebut yang sesuai dengan bentuk struktur topografi yang ada untuk memberikan arti penting sebuah lokasi atau tempat sebagai sarana aktifitas di laut seperti keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan laut, ekonomi, kewilayahan, sejarah, bahkan politis.

Sidang SCUFN ini dipimpin oleh Dr. Hyun Chul Han dari The Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) dan Dr. Ohara dari International Hydrographic Organisation, beserta 10 anggota dewan yang merupakan perwakilan dari IOC dan IHO.

Pada sidang SCUFN ke-35 (2022) di Paris, Indonesia mengajukan proposal nama fitur bawah laut sejumlah 10 nama fitur bawah laut di perairan Laut Halmahera dan Laut Banda.

Pada kesempatan ini, selain Indonesia, terdapat beberapa negara yang juga melakukan submisi penamaaan fitur bawah laut seperti: Amerika Serikat, Filipina, Jerman, Korea Selatan, China, Selandia Baru, Vietnam, Malaysia, Jepang, dan Brazil.

( Shanty Rd )

Pos terkait