Fahira Idris: Wajah Jakarta Semakin Berwarna

Jakarta, kabarberita.co.id – Selama lima tahun terakhir geliat pergelaran seni budaya di Provinsi Jakarta semakin marak terutama lewat berbagai pergelaran-pergelaran seni budaya yang digelar rutin sepanjang tahun dimana basisnya Komunitas di Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta. Pengembangan seni dan budaya memang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebagai bagian dari upaya untuk memastikan seni budaya tetap menyala di tengah modernitas kota Jakarta.
.
Salah satu pergelaran yang rutin digelar sepanjang tahun adalah Pergelaran Seni Budaya Berbasis Komunitas yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan penggiat dan komunitas seni budaya Betawi di GOR Ciracas, Jakarta Timur (22/3) yang dihadiri dan buka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Selain parade silat Betawi, pagelaran seni budaya ini menampilkan tarian rampak bedug, musik gambang kromong, atraksi silat kreasi, atraksi pembuatan dodol Betawi dan golok serta dimeriahkan dengan bazar kuliner dan kerajinan/cinderamata khas Jakarta serta kegiatan sosial donor darah.
.
Anggota DPD RI Perwakilan Pemprov DKI Jakarta, Fahira Idris mengungkapkan selama berpuluh-puluh tahun, Jakarta bukan sekedar ibu kota dan pusat pemerintahan saja tetapi juga pusat segala macam aktivitas terutama menjadi denyut utama aktivitas seni dan budaya. Menurutnya, selama lima tahun terakhir ini predikat Jakarta sebagai pusat seni dan budaya semakin marak dan semakin kuat.
.
“Selama lima tahun terakhir ini wajah Jakarta semakin kaya dan berwarna. Saya mengucapkan apresiasi dan terima kasih atas komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan dalam pengembangan seni budaya di Jakarta terutama yang diimplementasikan lewat berbagai pagelaran seni budaya yang digelar rutin sepanjang tahun. Event seperti ini membuka kesempatan bagi para pelaku seni dan budaya untuk memunculkan ide, kreativitas dan inovasi-inovasi baru,” ujar Fahira Idris dalam sambutannya pada acara Pergelaran Seni Budaya Berbasis Komunitas di GOR Ciracas, Jakarta Timur (22/3).
.
Menurut Fahira Idris, perkembangan seni budaya dan kemajuan sebuah kota, tidak dapat dipisahkan. Semakin maju sebuah kota maka biasanya semakin berdenyut kehidupan seni budayanya. Untuk konteks Jakarta, tentu tidak dapat dilepaskan dari pengembangan budaya Betawi. Salah satu terobosan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah pembangunan Pusat Budaya Betawi di Setu Babakan dan Museum Benyamin Sueb serta yang sangat terasa dinamikanya adalah pergelaran seni budaya terutama budaya Betawi sepanjang tahun.
.
“Pergelaran seni budaya terutama berbasis komunitas merupakan ruang bagi pengembangan seni dan budaya itu sendiri. Seperti yang kita ketahui bersama, kebudayaan itu dinamis karena seiring waktu mengalami perkembangan. Oleh karena itu, tanggung jawab kita semua bukan hanya melestarikan tetapi juga mengembangkan budaya,” pungkas Fahira Idris yang sekaligus menyerahkan Bang Japar Award kepala Kepala Dinas dan SKPD di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.
.
Pada kesempatan ini, Fahira Idris juga memberikan dukungan dan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta yang telah mengajukan sembilan karya budaya Betawi yaitu: Gambus Betawi; Pencak Silat Gerak Saka; Pencak Silat Sekojor; Pencak Silat Sabeni Tanabang; Sohibul Hikayat; Pencak Silat Troktok; Pencak Silat Pusaka Djakarta; Pencak Silat Mustika Kwitang; dan Pencak Silat Gamblong untuk dicatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal. Perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam pembangunan kebudayaan yang akan memberikan kontribusi secara signifikan dalam perkembangan perekonomian khususnya di Jakarta. (**)

Pos terkait