Harga Kantong Plastik Masih Tinggi, Disperindag NTB Dorong Pemerintah Pusat Keluar Regulasi Pengaturan Harga

MATARAM (KabarBerita) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menunggu langkah konkrit dari Pemerintah Pusat untuk mengatasi tingginya harga plastik di pasaran.

Lonjakan harga bahan baku kemasan ini berdampak serius pada berbagai sektor usaha, mulai dari Perum Bulog hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Kepala Disperindag Provinsi NTB, Lalu Wiranata, menjelaskan bahwa sebagian besar bahan baku plastik yang digunakan di Indonesia merupakan komoditas impor yang sangat bergantung pada kebijakan Kementerian Perdagangan.

“Ini kan pusat yang punya kewenangan dalam hal ini, Kementerian Perdagangan, informasi yang kami dapat, sebagian besar bahan bakunya itu impor, Jadi ketika ada pasokan impor yang masuk berkurang, otomatis stok sedikit dan harganya naik karena permintaan tetap tinggi,” ujar Lalu Wiranata dikantornya saat memberikan keterangan ke media KabarBerita, Rabu (1/7/2026).

Lebih lanjut Lalu Wiranata mengatakan dampak dari tingginya harga kemasan plastik ini sangat dirasakan di sektor pangan. Bahkan, Bulog di tingkat pusat pun turut terdampak. Di NTB sendiri, keluhan serupa datang dari para pengusaha UMKM pengolahan beras lokal yang menyuplai ke pasar ritel modern.

“Kemarin ada pengusaha UMKM kita yang mengolah beras untuk dijual ke ritel-ritel modern mengeluh dan datang ke sini untuk hearing, sementara Harga Eceran Tertinggi (HET) dibatasi, Akhirnya kami pertemukan mereka dengan pihak ritel untuk mencari jalan keluar bersama agar UMKM kita tidak mati,” terangnya.

Dikatakannya juga Disperindag NTB berharap Pemerintah Pusat segera mencarikan alternatif. Ia mencontohkan perlunya pengalihan dari plastik impor ke merek lokal yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi dengan kualitas yang setara. Sebenarnya, lanjut Wiranata, produk plastik dengan bahan baku lokal sudah ada dan telah ditawarkan kepada para pedagang dan pengusaha di pasar karena harganya lebih murah. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah faktor loyalitas merek dari para pelaku usaha.

“Ada produk lokal yang TKDN, bahannya lokal, harganya lebih murah, dan kualitasnya beda tipis. Tapi pengusahanya yang belum mau beralih, Ada kekhawatiran dari mereka kalau ganti kemasan, nanti memengaruhi minat konsumen atau tampilan produknya, Memang kalau sudah setia pada satu merek agak susah beralih,” ucapnya.

Lalu Wiranata menegaskan Pemprov NTB melalui Disperindag tidak tinggal diam dan telah menyiapkan tiga langkah strategis untuk membantu para pelaku usaha diantaranya:

  1. Koordinasi dengan pusat dengan terus mendorong pemerintah pusat untuk segera mengeluarkan regulasi atau kebijakan atas tingginya harga bahan baku impor, mengingat daerah hanya memiliki kapasitas untuk industri daur ulang.
  2. Edukasi dan substitusi produk dengan tetap konsisten menawarkan dan mengedukasi pedagang mengenai produk kemasan alternatif lokal yang lebih ekonomis.
  3. Inovasi dan manajemen ukuran produk (Downsizing) dengan Mendorong UMKM melakukan inovasi kemasan, salah satunya dengan memperkecil ukuran produk (misalnya pada produk kue atau camilan) agar kebutuhan plastik kemasan berkurang dan harga jual tetap terjangkau oleh masyarakat.

“Masyarakat sekarang yang penting produknya bisa terbeli. Jadi kalau ukurannya disesuaikan menjadi lebih kecil, penggunaan plastiknya lebih sedikit dan harganya lebih terjangkau, Ini bagian dari manajemen bertahan dan inovasi UMKM,” katanya.

Lalu Wiranata juga menambahkan Untuk mendukung inovasi dan adaptasi tersebut, Disperindag NTB juga gencar melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para pelaku usaha di berbagai wilayah.

“Kami sudah melakukan beberapa Bimtek di beberapa tempat, seperti di Lombok Utara (Bayan), Lombok Tengah (Praya), terkait strategi pengelolaan ini,” pungkasnya.

Sementara itu Salah seorang Pedagang plastik di pasar Dasan Agung Ibu Ayu mengatakan bahwa peningkatan harganya sangat tinggi, hingga dua kali lipat dari harga biasanya dan dan ini sangat mempengaruhi penjualan.

“Kenaikannya sudah seratus persen yang dulunya kami beli harga Rp 800 Ribu, sekarang bisa Rp1,7 juta harganya,” jelasnya. (Wira/red).

  • Related Posts

    Sambut HUT ke-56, Jamkrindo Gelar Donor Darah

    JAKARTA (KabarBerita) – PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menggelar kegiatan donor darah dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 perusahaan. Mengusung tema “Ayo Donor, Sehatkan Diri, Selamatkan Sesama”, kegiatan…

    Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Picu Antrian Panjang di SPBU

    MATARAM (KabarBerita) – Beberapa pekan terakhir antrian panjang terus terlihat disejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah terutama di Kota Mataram, hal ini dipicu kenaikan harga BBM…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    RDP Komisi IV DPRD NTB: Serapan Anggaran Tinggi, Proyek Bermasalah Tetap Jadi Sorotan

    RDP Komisi IV DPRD NTB: Serapan Anggaran Tinggi, Proyek Bermasalah Tetap Jadi Sorotan

    Harga Kantong Plastik Masih Tinggi, Disperindag NTB Dorong Pemerintah Pusat Keluar Regulasi Pengaturan Harga

    Harga Kantong Plastik Masih Tinggi, Disperindag NTB Dorong Pemerintah Pusat Keluar Regulasi Pengaturan Harga

    Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Mataram Mengucapkan Selamat Hari Bhayangkara Ke 80 Tahun

    Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Mataram Mengucapkan Selamat Hari Bhayangkara Ke 80 Tahun

    BRIDA NTB Sampaikan Capaian Kinerja kepada Komisi IV DPRD

    BRIDA NTB Sampaikan Capaian Kinerja kepada Komisi IV DPRD

    Pemprov NTB Surati Kemenhub RI Soal Ruang Gerak Penyeberangan Kendaraan Listrik Antar Pulau

    Pemprov NTB Surati Kemenhub RI Soal Ruang Gerak Penyeberangan Kendaraan Listrik Antar Pulau

    Pemprov NTB Gandeng MDPI dan Enam Mitra Strategis, Perkuat Kelestarian Perikanan di KPBP 2026

    Pemprov NTB Gandeng MDPI dan Enam Mitra Strategis, Perkuat Kelestarian Perikanan di KPBP 2026