
Mataram (KabarBerita) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Lalu Muhamad Iqbal meluncurkan program Tanam Cabai untuk Pengendalian Inflasi (TAPSI) di SMKN 5 Mataram, Program tersebut menjadi upaya Pemerintah Provinsi NTB membangun ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi melalui pelibatan siswa baru tingkat SMA/SMK sederajat.
Dalam peluncuran program tersebut, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa TAPSI bukan sekadar kegiatan menanam cabai, melainkan sarana pendidikan yang memberikan keterampilan praktis kepada para pelajar.
“Ini bentuk edukasi, bagaimana anak-anak kita semua memahami cara menyemai, menanam hingga panen serta bagaimana perawatan cabai ini, jadi ini soft skill,” ujar Miq Iqbal sapaannya saat memberikan keterangan usai launching program tersebut di SMKN 5 Mataram, Rabu (15/7/2026).
Lebih lanjut Miq Iqbal mengatakan program itu merupakan hasil kolaborasi antara SMK, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikpora) NTB dalam memanfaatkan potensi sekolah untuk mendukung ketahanan pangan daerah.
“Jadi ini bentuk kepedulian teman-teman kita di SMK bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Dikpora melihat peluang ini menciptakan ketahanan cabai,” ucapnya.
Miq Iqbal menjelaskan, hasil panen cabai dari program tersebut nantinya, diharapkan mampu menjadi instrumen pemerintah dalam mengintervensi pasar ketika harga cabai mengalami kenaikan signifikan.
“Ini salah satu langkah kita untuk intervensi pasar nantinya supaya tidak mendatangkan produk dari luar,” ungkapnya.
Miq Iqbal menambahkan tahap awal, ada 41 ribu pohon cabai akan ditanam oleh siswa baru di berbagai sekolah, Dengan asumsi setiap pohon menghasilkan sekitar setengah kilogram cabai, maka NTB diproyeksikan memiliki cadangan produksi lebih dari 20 ton cabai pertahunnya.
“Jadi jumlah pohon yang ditanam sekurangnya 41 ribu pohon cabai. Kalau satu pohon menghasilkan setengah kilogram maka kita punya cadangan sampai 20 ton lebih,” jelasnya.
Dikatakannya juga program ini akan menjadi tradisi bagi setiap peserta didik baru di tingkat SMA/SMK sederajat. Namun, jenis tanaman yang ditanam ke depan tidak selalu cabai dan akan diatur melalui kebijakan gubernur nantinya.
“Ini akan dijadikan tradisi untuk para siswa baru tingkat SMA sederajat, tapi berikutnya ini tetap cabai kita enggak tahu ke depannya, Jadi nanti ada SK Gubernur bahwa setiap siswa baru akan menanam sesuatu,” jelasnya.
Sedangkan Untuk menjaga keberlanjutan program menurutnya, perawatan tanaman akan menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah, Pemerintah Provinsi NTB juga mewajibkan penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman tersebut.
“Untuk perawatannya sendiri nanti di sekolah masing-masing dan kita wajibkan menggunakan pupuk organik,” pungkas Eks Dubes Indonesia untuk Turki itu.
Melalui Program TAPSI, Pemerintah Provinsi NTB berharap dapat membangun budaya bercocok tanam di kalangan generasi muda, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus menciptakan cadangan komoditas strategis yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas harga.






