Komisi II DPRD NTB Serap Keluhan Warga Tiga Gili Soal Sampah Menggunung

Mataram, (KabarBerita) – Pengelolaan sampah di kawasan wisata Tiga Gili (Gili Trawangan, Meno dan Air) di Desa Gili Indah, Kabupaten Lombok Utara (KLU), hingga kini masih menjadi persolan yang banyak dikeluhkan warga dan pelaku wisata.

Parahnya, pengelolaan sampah tersebut sejauh ini, belum terorganisir dengan baik. Padahal, dengan luas daratan hanya sekitar 3,4 kilometer persegi, khusus di Gili Trawangan, wilayah ini menanggung jumlah sampah 18 ton perharinya.

Ketua Komisi II DPRD NTB, H. Lalu Pelita Putra mengatakan, kedatangannya ke salah satu distinasi unggulan pariwisata di Provinsi NTB dan Indonesia ini untuk berdialog dengan para pelaku wisata dan masyarakat hingga jajaran OPD lingkup Pemkab KLU.

Menurut Politisi PKB ini, dengan tingginya jumlah wisatawan yang terus membanjiri wilayah tiga Gili, maka penaganan sampah ini harus dipastikan dengan serius. Terlebih, menurut informasi warga dan pelaku usaha di wilayah tiga Gili, tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST)  yang ada belum optimal untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

“Jadi, kenapa banyak sampah menggunung di TPST, ini karena mesin insimenator yang berfungsi hanya dapat mengelola sampah 5-10 ton perharinya. Ini tentu enggak sebanding dengan jumlah sampah yang mencapai 18 ton perharinya,” tegas H. Lalu Pelita Putra, Kamis (8/1/2026).

Ia mengatakan bahwa dengan tidak optimalnya mesin insimenator melayani jumlah sampah yang ada, maka seharusnya antara Pemkab Lobar dan Pemprov NTB perlu melakukan kolaborasi dan sinergi.

Pasalnya, pihaknya tidak menghendaki jika laju kunjungan wisatawan yang terus meningkat akan terganggu kenyamanannya, lantaran tumpukan sampah yang menggunung akibat terbatasnya kemampuan mesin insimenator dalam mengurai sampah yang ada.

“Tumpukan sampah yang menggunung ini harus disikapi dengan adanya mesin mixer untuk mencacah ribuan ton sampah yang ada. Bila perlu juga ada sebagian sampah yang diangkut ke daratan. Disinilah perlu ada koloborasi Pemprov dan Pemkab KLU untuk mengadakan alat mesin mixer ini,” tegas Pelita.

Sementara itu, Pemkab KLU berkomitmen mengurai sampah di kawasan wisata tiga gili (Trawangan, Meno, dan Air).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KLU, Husnul Ahadi mengatakan BKKPN Kupang sudah turun ke gili.

Mereka akan memberikan dukungan mencakup bantuan sarana dan prasarana untuk mengurangi timbulan sampah di kawasan wisata tersebut.

Husnul menjelaskan teknis dukungan telah dibahas bersama perwakilan pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa setempat.
”Dari BKKPN Kupang sudah hampir memastikan akan membantu melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah di tiga gili,” ujarnya.

Dari hasil diskusi, beberapa usulan kebutuhan yang diajukan.
Antara lain kendaraan roda tiga untuk pengangkutan sampah, mesin pencacah ranting, serta mixer untuk mengaduk lumpur sampah organik hasil olahan.

Tetapi pengelolaan sampah di kawasan wisata ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana.

Melainkan juga diiringi dengan perubahan perilaku masyarakat dan komitmen bersama antara pelaku usaha, warga, dan pemerintah.

Upaya itu harus berjalan beriringan. Kami mengedukasi masyarakat sambil memenuhi kebutuhan sarana pengelolaan. Kalau hanya salah satu yang dilakukan, hasilnya akan pincang,” jelas Husnul.

Ia mencontohkan, jika perilaku masyarakat belum berubah dan masih tidak memilah sampah, maka meskipun sarana sudah tersedia, masalah sampah tetap akan muncul.

Demikian juga sebaliknya, jika masyarakat sudah sadar tapi sarana tidak memadai, pengelolaan juga tidak akan optimal.

Karena itu, DLH KLU ke depan akan melakukan kedua upaya tersebut secara bersamaan.

“Yaitu mengubah perilaku masyarakat melalui pendekatan edukasi, sekaligus melengkapi fasilitas pengelolaan sampah yang dibutuhkan,” kata Husnul.

Dia menambahkan bahwa saat ini, justru yang paling mendesak adalah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat di tiga gili.

”Kolaborasi diperkuat agar persoalan sampah di tiga Gili bisa ditangani secara berkelanjutan,” tandas Husnul Ahadi. (Red)

Related Posts

Ponpes di NTB Dukung Pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Ponpes

TGH. Khairi Habibullah salah satu pengasuh di Ponpes Nurul Haramain NWDI Narmada Lombok Barat (foto:Dedy/kabarberita)   Mataram (KabarBerita) — Pemerintah Provinsi NTB bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTB dan…

Rapimpurda KNPI NTB diselanggarakan matangkan Persiapan Musda 2026

Mataram (Kabarberita) – Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Nusa Tenggara Barat (NTB), Baihaqi, menyatakan bahwa Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (Rapimpurda) menjadi momentum penting untuk mematangkan seluruh tahapan pelaksanaan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Ponpes di NTB Dukung Pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Ponpes

Ponpes di NTB Dukung Pembentukan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Ponpes

Rapimpurda KNPI NTB diselanggarakan matangkan Persiapan Musda 2026

Rapimpurda KNPI NTB diselanggarakan matangkan Persiapan Musda 2026

Satgas MBG NTB Siapkan Skema Khusus Layani Wilayah 3T, 135 Dapur Diusulkan

Satgas MBG NTB Siapkan Skema Khusus Layani Wilayah 3T, 135 Dapur Diusulkan

Enam Daerah Layangkan Mosi Tidak Percaya, Penilaian Drum Band Porprov NTB 2026 Diprotes

Enam Daerah Layangkan Mosi Tidak Percaya, Penilaian Drum Band Porprov NTB 2026 Diprotes

Menteri Trenggono dan Gubernur Miq Iqbal Siapkan KNMP Bintaro sebagai Percontohan Nasional

Menteri Trenggono dan Gubernur Miq Iqbal Siapkan KNMP Bintaro sebagai Percontohan Nasional

Gubernur NTB Ajak Masyarakat Nobar Final Piala Dunia 2026, Berbaur Tanpa Sekat di Bumi Gora

Gubernur NTB Ajak Masyarakat Nobar Final Piala Dunia 2026, Berbaur Tanpa Sekat di Bumi Gora